LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 3) UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT

 

BAB III

UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT

 

TUJUAN     :

   Mengetahui prinsip dasar uji kualitatif karbohidrat

   Mengetahui perbedaan prinsip dari masing-masing metode

 

1.    PRE-LAB

1.      Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis karbohidrat dan beri contoh masing-masing 3 ?

                  Jenis-jenis dari karbohidrat ada empat. Pertama, ada karbohidrat monosakarida yaitu merupakan molekul dasar karbohidrat. Contoh dari monosakarida ada glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Kedua, ada karbohidrat disakarida yaitu yang terbentuk dari dua monosa yang dapat saling terikat. Ketiga, ada karbohidrat oligosakarida yaitu gula rantai pendek yang dibentuk oleh galaktosa, glukosa, dan fruktosa. Contoh dari oligosakarida maltosa, laktosa, dan sukrosa. Keempat, ada karbohidrat polisakarida yaitu terdiri atas lebih dari dua ikatan monosakarida dan serat yang dinamakan juga polisakarida nonpati. Contoh polisakarida ada pati, dekstrin, dan glikogen (Siregar, 2014).

 

2.      Bagaimanakah reaksi yang terjadi antara reagent Molisch dengan sampel?

                  Uji molisch adalah uji umum pada karbohidrat. Reaksi yang terjadi antara regent molisch dengan sampel yaitu akan terbentuk dua lapisan. Diantara kedua lapisan tersebut terdapat bidang batas yang mana jika bereaksi akan membentuk cincin atau gelang yang berwarna merah-ungu (Ilmu, 2019).

 

3.      Bagaimanakah reaksi yang terjadi antara larutan yodium dengan sampel?

                  Salah satu metode yang digunakan untuk menguji adanya glikogen pada bahan pangan yaitu dengan menggunakan uji yodium. Larutan yodium yang direaksikan dengan glikogen akan membentuk warna merah sampai coklat. Hal ini disebabkan karena adanya penyerapan yodium pada struktur cincin glikogen yang saling berikatan sehingga membentuk kompleks berwarna merah kecoklatan (Mustakin dan Tahir, 2019).

 

4.      Apa prinsip uji benedict dan sampel apa saja yang bereaksi positif terhadap reagen benedict?

                  Uji benedict memiliki tujuan agar mengetahui adanya gula pereduksi dalam larutan sampel. Prinsip dari uji benedict adalah gugus aldehid atau biasa yang disebut keton bebas pada gula reduksi yang dikandung di dalam sampel untuk mereduksi ion Cu2+ dari CuSO4.5H2O dalam suasana alkalis menjadi Cu+ yang mengendap menjadi Cu2O. Suasana alkalis dapat diperoleh dari Na2CO3 dan Na sitrat yang terdapat pada reagen benedict (Kusbandari, 2015).

                  Pada uji ini hasil positifnya menghasilkan endapan merah bata yang menandakan adanya gula pereduksi pada sampel. Endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata tergantung pada konsentrasi gula reduksinya. Semakin berwarna merah bata maka gula reduksinya semakin banyak (Kusbandari, 2015).

                  Sampel yang menghasilkan uji positif antara lain pati dan tepung. Akan tetapi, antara reaksi yang dihasilkan dari pati dan tepung berbeda. Warna yang dihasilkan oleh pati berwarna merah bata, sedangkan tepung tidak terlalu. Hal ini terjadi karena pati terhidrolisis mengandung gula reduksi yang lebih banyak (Kusbandari, 2015).

 

5.      Jelaskan prinsip dari uji barfoed!

                  Uji barfoed digunakan untuk mendeteksi karbohidrat yang tergolong monosakarida. Endapan berwarna merah orange menunjukkan adanya monosakarida dalam sampel. Ion Cu2+ dari pereaksi barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Hal inilah yang mendasari dari uji barfoed. Uji barfoed yang terdeteksi monosakarida membentuk endapan merah bata karena terbentuk hasil Cu2O (Kusbandari, 2015).

 


2.    TINJAUAN PUSTAKA  

1.      Reagen molisch

                  Reagen molisch merupakan campuran α naftol dan sedikit asam sulfat pekat dalam etanol 95%. Uji molish digunakan untuk mendeteksi adanya karbohidrat secara umum dan akan dihasilkan cincin berwarna ungu. Cincin berwarna ungu berada di antara dua lapisan. Reaksi ini pada karbohidrat akan mengalami dehidrasi membentuk turunan fulfural dengan α naftol (Komarudin, 2017).

 

2.      H2SO4

                  Asam sulfat atau H2SO4 atau juga yang biasa dikenal dengan hidrogen sulfat adalah asam mineral yang memiliki sifat sangat korosif, jernih, tidak memiliki warna, tidak berbau, dan kuat. Asam sulfat sangat mudah untuk bereaksi dengan banyak macam senyawa organik untuk menghasilkan berbagai macam produk. Asam sulfat membentuk garam yang dapat mengendap dengan kalsium oksida atau hidroksida. Asam sulfat pekat merupakan agen dehidrasi yang baik dan dapat berfungsi sebagai agen pengoksidasi (Dewi, 2019).

 

3.      Larutan yodium

                  Yodium yang telah diadsorpsi dengan larutan polisakarida akan memberikan warna. Warna yang dihasilkan dapat bergantung dengan jenis polisakarida pengadsorpsi. Larutan amilum dengan yodium akan menghasilkan warna biru, sedangkan dengan glikogen atau larutan amilopektin yang terhidrolisa secara parsial akan menghasilkan warna coklat kemerahan (Nisyak, dkk., 2019).

 

4.      Reagen barfoed

                  Reagen barfoed adalah senyawa asam lemah. Reagen barfoed hanya mereduksi monosakarida. Reagen barfoed terdiri dari kupri asetat dan juga asam asetat. Reaksi karbohidrat dengan reagen barfoed akan menghasilkan kupro oksida yang memiliki waena merah bata (Nisyak, dkk., 2019).

 

5.      Ragen benedict

                  Reagen benedict adalah campuran larutan CuSO4 1,7%, Na2CO3 9%, dan natrium sitrat 17%. Uji benedict memiliki tujuan sama dengan tollens. Uji ini hasil positifnya akan membentuk endapan berwarna merah bata (Komarudin, 2017).

 

6.      Glukosa

                  Glukosa merupakaan monosakarida yang memiliki rumus C6H12O6 yang paling banyak terdapat di alam. Sebagai aldoheksosa, glukosa mempunyai enam atom karbon dalam rantai molekulnya. Salah satu ujung rantai merupakan gugus aldehid. Glukosa dapat dihasilkan dari proses hidrolisis polisakarida atau disakarida. Proses tersebut bisa dengan asam maupun dengan enzin (Galant et al, 2015).


7.      Fruktosa


                  Fruktosa adalah isomer dari glukosa. Fruktosa dan glukosa memiliki rumus molekul yang sama yaitu C6H12O6. Akan tetapi, memiliki struktur yang berbeda. Fruktosa murni rasanya sangat manis. Fruktosa memiliki warna putih, berbentuk seperti kristal padat, dan sangat mudah larut dalam air. Kelebihan fruktosa dibanding unsur gula lainnya, yaitu fruktosa mudah untuk didapatkan dan mudah untuk dimetabolisme spermatozoa sebagai sumber energi (Irfianti dan Wenny, 2019).

8.      Sukrosa

                  Rumus kimia sukrosa yaitu C12H22O11. Sukrosa mempunyai sifat fisik yaitu tak berwarna, larut di dalam air dan etanol. Namun, tidak larut di dalam eter dan kloroform, titik lebur 180oC. Sukrosa memiliki bentuk kristal monoklin, bersifat optis aktif, densitas kristal 1588 kg/m3 (pada 15oC). Sukrosa memiliki sifat kimia yaitu dalam suasana asam dan suhu tinggi akan mengalami inverse menjadi glukosa dan fruktosa (Mulyakin, 2020).


9.      Maltosa

                  Maltosa tidak terdapat bebas di alam. Maltosa dapat terbentuk oleh pemecahan pati. Jika dicerna atau dihidrolisis, maltosa dapat pecah menjadi dua unit glukosa (Siregar, 2014).

                  Maltosa atau gula gandum termasuk golongan jenis disakarida. Maltosa terdiri dari atas dua molekul glukosa. Maltosa diharapkan memiliki fungsi ganda. Fungsinya yakni sebagai substrat sumber energi dan krioprotektan ekstraseluler bagi sel selama proses penyimpanan (Yulnawati, dkk., 2011).

 

10.  Pati

                  Pati adalah sebuah homopolimer glukosa dengan memiliki ikatan α-glikosidik. Pati dibentuk dari dua fraksi yang bisa dipisahkan dengan air panas. Fraksi yang terlarut disebut amilosa dan fraksi yang tidak terlarut disebut amilopektin. Pati dapat dimodifikasi dengan cara hidrolisis, oksidasi, cross-lingking atau bisa disebut cross-bonding, dan substitusi (Ramirez et al, 2018).

                  Pati memiliki bentuk granula oval. Rata-rata dari ukuran granola pati sebesar 50-60,0 µm. Sifat kimia pati meliputi komponen proksimat yaitu air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat. Selain itu ada daya cerna pati, pati, amilosa, amilopektin, pati resisten, dan gula pereduksi. Kadar air sebesar 11,45%, abu sebesar 0,23%, protein sebesar 0,24%, lemak sebesar 0,68%, dan karbohidrat sebesar 98,74%. Selain itu, kadar daya cerna pati sebesar 84,35%, pati sebesar 98,10%, amilosa sebesar 24,64%, amilopektin sebesar 73,46%, pati resisten sebesar 2,12%, dan gula pereduksi sebesar 4,96% (Faridah, dkk., 2014).



11.  Dekstrin

                  Dektrin merupakan pati yang termodifikasi yang banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi, dan kimia. Sumber utama dari produksi dekstrin adalah dari umbi-umbian. Salah satunya yaitu ubi jalar yang sedang banyak dibudidayakan saat ini (Supriyatna, 2012).

                         Dekstrin merupakan karbohidritas yang dibentuk selama hidrolisis pati menjadi gula melalui beberapa metode yaitu dengan menggunakan panas, asam, atau enzim. Dekstrin memiliki banyak kegunaan yaitu sebagai pengisi dalam industri farmasi. Dalam industri pangan, dekstrin juga digunakan sebagai bahan pengental atau juga sebagai bahan pengisi untuk serbuk minuman. Desktrin dapat larut di dalam air, tetapi dapat juga diendapkan dalam alkohol. Dekstrin mempunyai sifat yang hampir sama dengan pati. Beberapa jenis dekstrin  dapat bereaksi dengan iodin dan membentuk warna biru dan larut dalam alkohol 25%. Dekstrin yang larut dalam alkohol 55% membentuk warna coklat kemerahan (Supriyatna, 2012).

 

1.      ANALISIS PROSEDUR

1.      Uji Molisch

           Sebelum praktikum dimulai, persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu. Bahan yang digunakan di dalam praktikum ini yaitu glukosa 5%, sukrosa 5%, pati 1%, reagen molish, dan larutan H2SO4. Alat yang digunakan di dalam praktikum ini yaitu tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur, bulb, dan pipet tetes. Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukan 1 ml sampel ke setiap tabung reaksi. Kemudian tambahkan sebanyak da tetes reagen molish ke setiap tabung reaksi. Dalam meneteskan H2SO4 dalam lemari asam posisi pipet ukur dengan mengalirkan H2SO4 melalui dinding tabung reaksi dan tabung reaksi dimiringkan dan jangan sampai pecah, setelah diteteskan H2SO4, tegakkan tabung reaksi secara perlahan. Kemudian amati hasil yang diperoleh.

 

2.      Uji Yodium

           Sebelum praktikum dimulai, persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu. Bahan yang digunakan di dalam praktikum ini yaitu larutan yodium 5%, dekstrin 5%, sukrosa 5%, glukosa 5%, dan pati 1%. Alat yang digunakan di dalam praktikum ini yaitu pipet tetes dan cawan petri. Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukan sebanyak satu tetes sampel di atas cawan petri. Kemudian teteskan sebanyak satu tetes larutan yodium ke atas sampel yang telah diteteskan di atas cawan petri. Lalu, lakukan percobaan secara duplo agar hasil lebih akurat. Selanjutnya, amati hasil yang diperoleh.

 

3.      Uji Barfoed

           Sebelum praktikum dimulai, persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu. Bahan yang digunakan di dalam praktikum ini yaitu sukrosa 5%, maltosa 5%, fruktosa 5%, glukosa 5%, dan reagen barfoed. Alat yang digunakan di dalam praktikum ini yaitu pemanas, beaker glass, penjepit kayu, bulb, pipet ukur dan pipet tetes. Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukan sebanyak lime tetes sampel ke dalam masing-masing tabung reaksi. Kemudian tambahkan sebanyak 1 ml reagen barfoed ke dalam masing-masing tabung reaksi yang telah berisi sampel. Saat menggunakan pipet ukur, jangan sampai ada gelembung di dalamnya dikarenakan akan mengubah volume yang ada di dalam pipet ukur. Setelah semua sampel diteteskan, panaskan sampel ke dalam beaker glass yang telah berisi air yang sudah dipanaskan. Pemanasan dilakukan selama tujuh menit. Selanjutnya, amati hasil yang diperoleh.

 

4.      Uji Benedict

           Sebelum praktikum dimulai, persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu. Bahan yang digunakan di dalam praktikum ini yaitu fruktosa 5%, sukrosa 5%, glukosa 5%, dan reagen benedict. Alat yang digunakan di dalam praktikum ini yaitu bunsen, penjepit kayu, pipet ukur, bulb, dan pipet tetes. Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukan sebanyak dua tetes sampel ke dalam masing-masing tabung reaksi. Kemudian, tambahkan sebanyak 1 ml reagen benedict ke dalam masing-masing tabung reaksi yang telah berisi sampel. Saat menggunakan pipet ukur pandangan harus lurus dengan skalanya. Selanjutnya, memanaskan sampel yang sudah berada di dalam tabung reaksi menggunakan bunsen hingga terjadi perubahan. Ketika melakukan pemanasan menggunakan bunsen, posisi dari tabung reaksi harus dalam keadaan miring. Sampel mengalami pemanasan selama kurang lebih dua menit. Selanjutnya, amati hasil yang diperoleh.


 

2.      DATA HASIL PENGAMATAN & PEMBAHASAN

1.      Uji Molisch

a. Tuliskan data hasil uji Molisch

Senyawa

Hasil Uji

 

Keterangan

Glukosa

 

Cincin ungu

+, disakarida

Sukrosa

 

Cincin ungu

+, disakarida

Pati

 

Cincin ungu/merah

+, polisakarida

b. Analisa hasil, bahas dan bandingkan data-data hasil uji Molisch dari beberapa sampel dalam percobaan ini!

                      Menurut Lapu dan Telussa (2013), prinsip dari uji molish yaitu mengidentifikasi kandungan karbohidrat . Dalam praktiknya dilakukan penambahan reagen molish dimana akan terjadi reaksi dehidrasi karbohidrat oleh H2SO4 membentuk cincin furfural dan menghasilkan komplek warna ungu pada permukaan larutan. H2SO4 berperan dalam pembentukan senyawa furfural dan condesing agent. Alfa naftol dapat membentuk komplek warna ungu.

                      Berdasarkan data hasil pengamatan terdapat tiga sampel yang digunakan, yaitu glukosa, sukrosa, dan pati. Percobaan pada sampel glukosa, sampel glukosa dimasukkan sebanyak 1 ml ke dalam tabung reaksi. Kemudian, ditambahkan reagen molisch ke dalam tabung reaksi. Lalu tabung reaksi dikocok. Selanjutnya ditambahkan larutan H2SO4 dengan menggunakan pipet ukur. Penambahan H2SO4 bertujuan untuk pembentukan senyawa furfural. Setelah ditambahkan H2SO4, dari hasil uji dihasilkan cicin ungu pada larutan sampel sukrosa. Hasil uji ini sudah sesuai dengan literatur bahwa hasil uji dari glukosa adalah positif, yang mana dibuktikan dengan terbentuknya cinicn ungu pada larutan sampel. Glukosa juga merupakan senyawa yang mengandung karbohidrat (Al-Kayyis dan Hari, 2016).

                      Percobaan pada sampel sukrosa, sampel sukrosa dimasukkan sebanyak 1 ml ke dalam tabung reaksi. Kemudian, ditambahkan reagen molisch ke dalam tabung reaksi. Lalu tabung reaksi dikocok. Selanjutnya ditambahkan larutan H2SO4 dengan menggunakan pipet ukur. Penambahan H2SO4 bertujuan untuk pembentukan senyawa furfural. Setelah ditambahkan H2SO4, dari hasil uji dihasilkan cicin ungu pada larutan sampel sukrosa. Hasil uji ini sudah sesuai dengan literatur bahwa hasil uji dari sukrosa adalah positif, yang mana dibuktikan dengan terbentuknya cincin ungu pada larutan sampel. Sukrosa juga merupakan senyawa yang mengandung karbohidrat (Al-Kayyis dan Hari, 2016).

                      Percobaan pada sampel pati, sampel pati dimasukkan sebanyak 1 ml ke dalam tabung reaksi. Kemudian, ditambahkan reagen molisch ke dalam tabung reaksi. Lalu tabung reaksi dikocok. Selanjutnya ditambahkan larutan H2SO4 dengan menggunakan pipet ukur. Penambahan H2SO4 bertujuan untuk pembentukan senyawa furfural. Setelah ditambahkan H2SO4, dari hasil uji dihasilkan cincin ungu atau merah pada larutan sampel pati. Hasil uji ini sudah sesuai dengan literatur bahwa hasil uji dari pati adalah positif, yang mana dibuktikan dengan terbentuknya cincin ungu pada larutan sampel. Pati juga merupakan senyawa yang mengandung karbohidrat. Warna ungu pada sampel pati tidak terlalu pekat karena ada atom karbon yang ada pada pati lebih panjang dibandingkan atom karbon pada glukosa dan sukrosa (Al-Kayyis dan Hari, 2016).

                      Mekanisme reaksi pada uji molish yaitu dibuktikan dengan terbentuknya cincin ungu pada larutan sampel. Hal ini berawal dari senyawa karbohidrat yang dihidrolisis menjadi monosakarida, kemudian monosakarida jenis pentosa akan bereaksi dengan H2SO4 pekat menjadi furfural, sedangkan golongan heksosa menjadi hidroksimultifurfural. Reaksi ini akan membentuk cincin furfural atau hidroksimetilfurfural, Reagen molisch bereaksi dengan furfural lalu membentuk senyawa kompleks berwarna ungu (Al-Kayyis dan Hari, 2016).


1.      Uji Yodium

a. Tuliskan data hasil uji Yodium

Senyawa

Hasil Uji

 

Keterangan

Dekstrin

Merah kecoklatan

+

Sukrosa

Biru kehitaman

+

Glukosa

Tidak terbentuk biru kehitaman

-

Pati

Biru kehitaman

+

b. Analisa hasil, bahas dan bandingkan data-data hasil uji Yodium dari beberapa sampel dalam percobaan ini!

                      Prinsip dari uji yodium adalah mengidentifikasi kandungan polisakarida dengan menambahkan larutan yodium dalam bentuk triiodida. Kemudian, triiodida akan masuk ke struktur helikal pada pati yang akan membentuk warna biru pekat atau biru kehitaman. Tujuan utama dari uji yodium adalah analisis kuantitatif glukosa dari sumber alami (Fleischer, 2019).

                      Berdasarkan data hasil pengamatan terdapat tiga sampel yang digunakan, yaitu dekstrin, sukrosa, glukosa, dan pati. Pengamatan pada dekstrin, larutan sampel dekstrin di teteskan di atas cawan petri sebanyak 1 tetes. Lalu, sampel dekstrin yang telah diteteskan ditambahkan dengan reagen yodium sebanyak 1 tetes dengan menggunakan pipet tetes. Setelah diteteskan diamati perubahan warna menjadi warna merah kecoklatan, sehingga hasil uji positif. Hasil pengujian ini sesuai dengan yang ada di literatur bahwa larutan sampel dekstrin yang direaksikan dengan larutan yodium maka akan menghasilkan warna merah coklat karena dekstrin terhidrolisis dengan yodium (Mustakin dan Mulyati, 2019).

                      Pengamatan pada sukrosa, larutan sampel sukrosa di teteskan di atas cawan petri sebanyak 1 tetes. Lalu, sampel sukrosa yang telah diteteskan ditambahkan dengan reagen yodium sebanyak 1 tetes dengan menggunakan pipet tetes. Setelah diteteskan diamati perubahan warna menjadi biru kehitaman, sehingga hasil uji positif. Hasil pengujian ini tidak sesuai dengan yang ada di literatur bahwa sukrosa akan bereaksi dengan warna yang berubah menjadi kuning bening dan hasil uji sukrosa adalah negatif (Fitri dan Yolla, 2020).

                      Pengamatan pada glukosa, larutan sampel glukosa di teteskan di atas cawan petri sebanyak 1 tetes. Lalu, sampel glukosa yang telah diteteskan ditambahkan dengan reagen yodium sebanyak 1 tetes dengan menggunkan pipet tetes. Setelah diteteskan diamati perubahan warna ternyata tidak terbentuk biru kehitaman, sehingga hasil uji negatif. Hasil pengujian ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa pada uji glukosa terjadi perubahan warna menjadi kuning bening. Akan tetapi, tidak berwarna biru kehitaman dan hasil ujinya adalah negatif (Fitri dan Yolla, 2020).

                      Pengamatan pada pati, larutan sampel pati di teteskan di atas cawan petri sebanyak 1 tetes. Lalu, sampel pati yang telah diteteskan ditambahkan dengan reagen yodium sebanyak 1 tetes dengan menggunkan pipet tetes. Setelah diteteskan diamati perubahan warna menjadi warna biru kehitaman, sehingga hasil uji positif. Hasil pengujian ini sesuai dengan literatur bahwa pati memiliki unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada setiap unit glukosanya, sehingga menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekum yodium yang menyebabkan warna menjadi biru kehitaman (Fitri dan Yolla, 2020).

                      Mekanisme pada uji yodium yaitu kalium iodida masuk ke dalam sampel. Kemudian, membentuk ion kompleks triiodida. Lalu triodida akan masuk ke struktur helical pada pati. Selanjutnya sehingga membentuk warna biru pekat atau biru kehitaman (Fitri dan Yolla, 2020).

 

2.      Uji Barfoed

a.       Tuliskan data hasil Barfoed test!

Senyawa

Hasil Uji

 

Keterangan

Glukosa

Laktosa

-

Biru tua

Fruktosa

 

+

Merah bata

Maltosa

 

+

Merah muda

Sukrosa

-

Biru tua

b.      Analisa hasil, bahas dan bandingkan data-data hasil uji Barfoed  dari beberapa sampel dalam percobaan ini!

               Prinsip dari uji barfoed adalah mengidentifikasi monosakarida dan disakarida pereduksi dicampurkan dengan reagen barfoed. Reagen barfoed terbuat dari campuran larutan kupri asetat dan asam asetat. Hasil positif dai uji barfoed yaitu menghasilkan endapan kuprooksida (Cu2O) bewarna merah bata (Al-Kayyis dan Hari, 2016).

               Berdasarkan data hasil pengamatan sampel yang digunakan pada uji barfoed yaitu glukosa, fruktosa, maltosa, dan glukosa. Pengamatan pada larutan glukosa, sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak lima tetes. Selanjutnya, ditambahkan 1 ml reagen barfoed. Kemudian, sampel dipanaskan didalam penangas air. Setelah dipanaskan warna sampel glukosa tidak ada endapan dan berwarna biru tua yang menandakan hasil uji negatif. Hasil pengujian ini tidak sesuai dengan yang ada didalam literatur bahwa pada uji barfoed, glukosa akan terdapat endapan berwarna merah bata dan hasil uji adalah positif. Hal ini terjadi karena monosakarida pereduksi lebih optimal dibandingkan dengan disakarida pereduksi. Jika sampel direaksikan dengan reagen barfoed akan membentuk endapan kuprooksida merah bata atau merah kecoklatan (Kusbandari, 2015).

               Pengamatan pada larutan fruktosa, sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak lima tetes. Selanjutnya, ditambahkan 1 ml reagen barfoed. Kemudian, sampel dipanaskan didalam penangas air. Setelah dipanaskan warna sampel fruktosa menjadi ada endapan berwarna merah bata yang menandakan hasil uji positif. Hasil pengujian ini sesuai dengan yang ada di literatur bahwa fruktosa termasuk dalam monosakarida. Karbohidrat yang termasuk dalam monosakarida akan bereaksi dengan reagen barfoed menghasilkan Cu2O berwarna merah bata (Kusbandari, 2015).

               Pengamatan pada larutan maltosa, sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak lima tetes. Selanjutnya, ditambahkan 1 ml reagen barfoed. Kemudian, sampel dipanaskan didalam penangas air. Setelah dipanaskan warna sampel maltosa menjadi ada endapan berwarna merah bata yang menandakan hasil uji positif. Hasil pengujian ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa maltosa mengandung gula pereduksi dengan adanya endapan berwarna merah (Kusbandari, 2015).

               Pengamatan pada larutan sukrosa, sampel dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak lima tetes. Selanjutnya, ditambahkan 1 ml reagen barfoed. Kemudian, sampel dipanaskan didalam penangas air. Setelah dipanaskan warna sampel sukrosa tidak ada endapan dan berwarna biru tua yang menandakan hasil uji negatif. Hasil pengujian ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa hasil uji barfoed pada sukrosa adalah negatid. Akan tetapi, jika terjadi pemanasan pada sampel sukrosa lebih lama maka akan terbentuk endapan berwarna merah bata (Kusbandi, 2015).

               Mekanisme reaksi pada uji barfoes yaitu ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. Reaksi ini dapat terjadi dikarenakan ion Cu2+ dari pereaksi barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula pereduksi monosakarida daripada disakarida. Kemudian, menghasilkan Cu2O berwarna merah bata (Koirala and Shrestha, 2020).

 

3.      Uji Benedict

a.       Tuliskan data hasil Benedict test!

Senyawa

Hasil Uji

 

Keterangan

Sebelum pemanasan

Setelah pemanasan

Glukosa

 

Biru

Biru

-, monosakarida

Fruktosa

Biru

Merah bata

+, monosakarida

Sukrosa

Biru

Biru

-, disakarida

b.      Analisa hasil, bahas dan bandingkan data-data hasil uji Benedict dari beberapa sampel dalam percobaan ini!

                 Prinsip dari uji benedict yaitu, larutan CuSO4 dalam suasana basa. Kemudian larutan CuSO4 direaksikan dengan gula pereduksi. Selanjutnya CuO tereduksi menjadi Cu2O yang berwarna merah bata (Figueira and Joao, 2014).

                 Berdasarkan data hasil pengamatan sampel yang digunakan pada uji benedict yaitu glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Pengamatan pada larutan glukosa, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian, ditambahkan reagen benedict sebanyak 1 ml menggunakan pipet ukur. Setelah ditambahkan reagen benedict, sampel kemudian dipanaskan diatas api bunsen. Warna dari sampel saat sebelum dipanaskan berwarna biru. Setelah sampel dipanaskan, tidak ada perubahan warna yang terjadi pada larutan. Hasil pengujian ini tidak sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa glukosa merupakan gula pereduksi, sehingga akan menghasilkan uji positif pada uji benedict. Karena gula pereduksi akan bereaksi dengan reagen benedict dan menghasilkan endapan berwarna merah bata (Nurjannah, dkk., 2017).

                 Pengamatan pada larutan fruktosa, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian, ditambahkan reagen benedict sebanyak 1 ml menggunakan pipet ukur. Setelah ditambahkan reagen benedict, sampel kemudian dipanaskan diatas api bunsen. Warna dari sampel saat sebelum dipanaskan berwarna biru. Setelah sampel dipanaskan, terdapat endapan berwarna merah bata pada sampel. Hasil pengujian ini sesuai dengan yang ada di literatur bahwa fruktosa termasuk ke dalam gula pereduksi yang akan bereaksi dengan reagen benedict. Hasil uji benedict yang benar pada fruktosa adalah positif (Nurjannah, dkk., 2017).

                 Pengamatan pada larutan sukrosa, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian, ditambahkan reagen benedict sebanyak 1 ml menggunakan pipet ukur. Setelah ditambahkan reagen benedict, sampel kemudian dipanaskan diatas api bunsen. Warna dari sampel saat sebelum dipanaskan berwarna biru. Setelah sampel dipanaskan, tidak ada perubahan warna yang terjadi pada larutan. Hasil pengujian ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa sukrosa merupakan disakarida karena sukrosa memilki ikatan rangkap dan rantai panjang sehingga tidak dapat direduksi oleh reagen benedict (Nurjannah, dkk., 2017).

                 Mekanisme pada uji benedict yaitu, pereaksi dari benedict terdiri dari tembaga sulfat dalam larutan natrium karbonal dan natrium sitrat yang dapat mereduksi glukosa. Glukosa terlebih dahulu dioksidasi dengan bentuk garan asam glukoronat. Larutan CuSO4 dalam suasana alkali kemudian akan direaksikan oleh gula yang memiliki gugus fungsi aldehida tau keton bebas sehingga CuO tereduksi menjadi Cu2O yang berwarna merah bata (Hasanah, 2014).

 

1.      PERTANYAAN

1.      Bagaimana mengidentifikasi adanya pati dalam sampel dengan uji yodium?

                      Uji yodium dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan polisakarida dengan menamahkan reagen yodium. Ini adalah cara untuk mengidentifikasi pati. Perubahan warna larutan terjadi karena dalam larutan pati memiliki unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks. Adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini yang dapat menyebabkan pati membentuk kompleks dengan molekul yodium yang bisa masuk kedalam spiral. Pati yang bereaksi akan menghasilkan warna biru (Mustakin dan Mulyati, 2019).

 

2.      Bagaimana mengidentifikasi gula pereduksi sampel pada uji benedict?

                      Untuk mengidentifikasi gula pereduksi adalah dengan cara melakukan uji benedict. Uji benedict digunakan untuk mengidentifikasi gula pereduksi dalam suasana basa. Prinsip dari uji benedict ini adalah larutan CuSO4 dalam suasana basa akan bereaksi dengan gula pereduksi sehingga CuO tereduksi menjadi Cu2O. Larutan yang bereaksi akan menghasilkan warna merah bata (Kim et al, 2017).

 

 

2.      KESIMPULAN

                 Tujuan dari praktikum ini ada dua. Tujuan yang pertama yaitu agar praktikan mengetahui prinsip dasar uji kualitatif karbohidrat. Tujuan yang kedua yaitu agar praktikan mengetahui perbedaan prinsip dari masing-masing metode.

                 Prinsip dari uji molish yaitu mengidentifikasi kandungan karbohidrat dengan penambahan reagen molisch. Ada tiga sampel uji pada uji molish. Pada sampel glukosa menghasilkan uji positif karena menghasilkan cincin ungu pada reaksinya. Pada sampel sukrosa menghasilkan uji positif karena menghasilkan cincin ungu pada reaksinya. Pada sampel pati menghasilkan uji positif karena menghasilkan cincin ungu pada reaksinya.

                 Prinsip dari uji yodium yaitu mengidentifikasi kandungan polisakarida dengan menambahkan larutan yodium dalam bentuk triiodida. Ada empat sampel uji pada uji yodium. Pada sampel dekstrin menghasilkan uji positif karena menghasilkan warna merak kecoklatan. Pada sampel sukrosa menghasilkan uji positif karena menghasilkan warna biru kehitaman, tetapi hasil uji tidak sesuai dengan literatur yang seharusnya sukrosa menghasilkan uji negatif. Pada sampel glukosa menghasilkan uji negatif. Pada sampel pati menghasilkan uji positif karena menghasilkan warna biru kehitaman.

                 Prinsip dari uji barfoed yaitu mengidentifikasi monosakarida dan disakarida pereduksi dicampurkan dengan reagen barfoed. Pada sampel glukosa menghasilkan hasil uji negatif, tetapi hasil uji tidak sesuai dengan literatur yang seharusnya glukosa menghasilkan uji positif. Pada sampel fruktosa menghasilkan uji positif karena membentuk endapan berwarna merah bata. Pada sampel maltosa menghasilkan uji positif karena membentuk endapan berwarna merah bata. Pada sampel sukrosa menghasilkan uji negatif.

                 Prinsip dari uji benedict larutan CuSO4 dalam suasana basa. Kemudian larutan CuSO4 direaksikan dengan gula pereduksi. Selanjutnya CuO tereduksi menjadi Cu2O yang berwarna merah bata. Pada sampel glukosa menghasilkan uji negatif, tetapi  hasil uji tidak sesuai dengan literatur yang seharusnya glukosa menghasilkan uji positif. Pada sampel fruktosa menghasilkan uji positif karena membentuk endapan berwarna merah bata. Pada sampel sukrosa menghasilkan uji negatif.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anggraeni, P., Addarojah, Z., dan D.D. Anggoro. 2015. Hidrolisis Selulosa Eceng Gondok (Eichhornia crassipe) Menjadi Glukosa dengan Katalis Arang Aktif Tersulfonasi. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. 2(3): 63-69.

Dewi, R. L. 2019. Pengaruh Variasi Konsentrasi H2SO4 Terhadap Karakteristrik Material Graphene Oksida Tereduksi. SKRIPSI. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Faridah, D. N., Ferdiaz, D., Andarwulan, N., dan T. C. Sunarti. 2014. Karakteristik Sifat Fisikokimia Pati Garut (Maranta arundinaceae). Agritech. 34(1): 14-21.

Fitri, A. S. dan Y. A. N. Fitriana. 2020. Analisis Senyawa Kimia pada Karbohidrat. Sainteks. 17(1): 45-52.

Galant, A. L., Kaufman, R. C., and J. D. Wilson. Glucose: Detection and Analysis. Food Chemistry. 188(2015): 149-160.

Ilmu, T. K. 2019. Rumus Pocket Kimia SMA/MA. Jakarta: PT Grasindo.

Irfianti, A., dan Wenny, B. S. 2019. Eksplorasi Karakteristik Kimia dan Fisik Serta Komponen Gula pada Mangga Garifta (Mangifera indica). Jurnal Pangan Dan Agroindustri. 7(2): 47-52.

Komarudin, O. 2017. New Edition Big Book Kimia SMA/MA. Jakarta Selatan: Penerbit Cmedia.

Kurniawan, I. N., Siti, M., Deacitara, H., dkk. 2016. Struktur dan Fungsi Karbohidrat. SKRIPSI. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Yogyakarta.

Kusbandari, Aprilia. 2015. Analisis Kualitatif Kandungan Sakarida dalam Tepung dan Pati Umbi Ganyong (Canna edulis Ker.). Pharmaciana. 5(1): 35-42.

Mulyakin, S. 2020. Kajian Penambahan Gula Pasir Terhadap Sifat Kimia Dan Organoleptik Sirup Kersen. SKRIPSI. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Mataram.

Mustakin, F dan M. M. Tahir. 2019. Analisis Kandungan Glikogen pada Hati, Otot, dan Otak Hewan. Canrea Journal. 2(2): 75-80.

Nisyak, K., Prasetya, Y. A., dan A. Hisbiyah. 2019. Biokimia Penuntun Praktikum Biokimia. Surabaya: Andi Publisher.

Ramirez, Y. I. C., Cruz, O. M., Sanchez, C. L. D. T., Corral, F. J. W., Flores, J. B. and F. J. C. Morotoqui. 2018. The Structural Characteristics of Starches and Their Functional Properties. CyTA-Journal of Food. 16(1): 1003-1017.

Sari, A. R., Martono, Y., dan F. S. Rondonuwu. 2020. Identifikasi Kualitas Beras Putih (Oryza Sativa L.) Berdasarkan Kandungan Amilosa Dan Amilopektin. Jurnal Ilmiah Multi Sciences. 12(1): 24-30.

Siregar, N. S. 2014. Karbohidrat. Jurnal Ilmu Keolahragaan. 13(2): 38-44.

Supriyatna, Nana. 2012. Produksi Dekstrin dari Ubi Jalar Asal Pontianak Secara Enzimatis. Biopropal Industri. 3(2): 51-56.

Yulnawati, Maheswari, H., Rizal, M., dan Herdis. 2011. Maltosa Mempertahankan Viabilitas Spermatozoa Epididimis Kerbau Belang yang Disimpan dalam Bentuk Cair. Jurnal Veteriner. 11(2): 126-130.

Surti. 2019. Perbandingan Karakteristik Perekat Kayu Dekstrin Dari Pati Biji Durian, Pati Sagu Dan Pati Singkong. SKRIPSI. Fakultas Kehutanan. Universitas Sumatera Utara.

 


DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

 

Al-kayyis, H, K., dan Hari, S. 2016. Perbandingan Metode Somogyi-Nelson dan Anthrone-Sulfat pada Penetapan Kadar Gula Pereduksi dalam Umbi Cilembu (Ipomea batatas L.). Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas. 13(2): 81-89.

Elzagheid, M. I. 2018. Laboratory Activities to Introduce Carbohydrates Qualitative Analysis to College Student. World Journal of Chemical Education. 6(2): 82-86.

Fadhilah, F. dan Noviana, V. 2019. Comparison of Glucose Reduction in Urine Using Benedict Method Heated by Methylated Flame with 100°C Waterbath. Indonesian Journal of Medical Laboratory Science and Technology. 1(2): 44-51.

Figueira, A, C, M., and Joao, B,T, R. 2014. A Proposal for Teaching Undergraduate Chemistry Students Carbohydrate Biochemistry by Problem-Based Learning Activities. Biochemistry and Molecular Biology Education. 42(1): 81-87.

Fitri, A, S., dan Yolla, A, N, F. Analisis Senyawa Kimia pada Karbohidrat. SAINTEKS. 17(1): 45-52.

Fleischer, H. 2019. The Iodine Test for Reducing Sugars – A Safe, Quick and Easy Alternative to Copper (II) and Silver (I) Based Reagents. World Journal of Chemical Education. 7(2): 45-52.

Hasanah, Izadatul. 2014. Studi Komparasi Kandungan Karbohidrat Tepung Biji Mangga Manalagi dan Arumanis sebagai Alternatif Sumber Karbohidrat pada Pembuatan Jenang Pelok. Skripsi. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo.

Kim, J. S., Han, B. O., Kim, A. H., et al. 2017. A study on detection of glucose concentration using changes in color coordinates. Bioengineered. 8(1): 99-104.

Lapu, P., dan I. Telussa. 2013. Analisis Kandungan Pati Resisten dari Beberapa Jenis Pati Sagu di Maluku dengan Variasi Suhu Pemanasan. Ind. J. Chem. Res. 1(1): 6-14.

Mustakin, F., dan Mulyati, M, T. 2019. Analisis Kandungan Glikogen pada Hati, Otot, dan Otak Hewan. Canrea Journal. 2(2): 75-80.

Nurjannah, dkk. 2017. Produksi Asam Laktat oleh Lactobacillus delbrueckii subsp. Bulgaricus dengan Sumber Karbon Tetes Tebu. Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia. 9(1): 1-9.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 2) IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALDEHID DAN KETON

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 1) IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALKOHOL

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 4) ANALISIS KUALITATIF PROTEIN