LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 4) ANALISIS KUALITATIF PROTEIN
BAB I
ANALISIS KUALITATIF PROTEIN
TUJUAN :
- Mengetahui prinsip dasar uji kualitatif protein
- Mengetahui perbedaan prinsip dari masing-masing metode
A.
PRE-LAB
|
1. Jelaskan apa yang
dimaksud dengan uji kualitatif protein dan perbedaanya dengan uji kuantitatif
protein? Menurut
Indarto (2015), uji kualitatif protein merupakan salah satu uji yang
bertujuan untuk memberikan informasi keberadaan protein atau golongan senyawa
protein. Contoh dari uji kualitatif yaitu uji ninhydrin, uji millon, dan uji
biuret. Untuk uji kuantitatif merupakan salah satu uji yang bertujuan untuk
membedakan mana yang merupakan komponen utama dan mana yang merupakan komponen
tambahan dalam sebuah campuran. Selain itu, untuk mengetahui besarnya kadar
protein di dalam sampel. Jadi perbedaan uji kualitatif dan uji kuantitatif
yaitu uji kualitatif untuk mendeteksi adanya protein, sedangkan uji
kuantitatif untuk membedakan komponen dalam suatu campuran dan mengetahui
besarnya kadar protein pada sampel. Contoh uji kuantitatif pada protein yaitu
menggunakan uji Kjeldahl (Dirga, dkk., 2018). |
|
2. Jelaskan
apa yang dimaksud dengan asam amino beserta gambar strukturnya! Asam
amino merupakan penyusun protein yang biasanya ditemukan dalam bentuk
L-isomer, tetapi untuk asam amino sintetik juga ditemukan dalam bentuk D.
Asam amino diperoleh dari protein yang dihidrolisis oleh enzin, asam atau
alkali. Asam amino memiliki karakteristik dalam struktur kimia, terdiri dari
grup nitrogen yang memiliki ion amina (-NH3) dan karboksilat (-COOH). Namun
juga terkadang asam amino memiliki gugus hidroksil (-OH) dan belerang (-S). Prolin,
sebagai salah satu asam amino memiliki gugus ion imino (-NH) (Widodo, 2018). Penggolongan
asam amino antara lain, monoamino monokarboksilat, yaitu glisin, alanin,
valin, leusin, serin, threonin, dan isoleusin. Kemudian ada, monoamino-dikarboksilat
dan derivatnya, yaitu asam aspartat, asparagin, glutamin, dan asam glutaman.
Selanjutnya, asam amino basa yaitu, lisin, histidin, dan arganin. Setelah
itu, ada asam amino dan heterosiklik yaitu, phenilalanin, tirosin,
triptophan, dan prolin. Kemudian, ada asam amino yang mengandung sulfur yaitu
sistein dan methionin (Widodo, 2018). |
|
3. Jelaskan prinsip uji kualtiatif protein dengan metode
Ninhydrin dan Biuret serta perbedaan antara keduanya! Menurut
Agustida dan Kurniasih (2013), prinsip dari uji ninhydrin yaitu membuktikan
ada tidaknya gugus amina. Selain itu, uji ninhydrin dilakukan untuk menguji
ada tidaknya asam amino bebas dalam protein dengan merubah warna larutan
menjadi warna biru-ungu. Uji ninhydrin dapat digunakan untuk menganalisis asam
amino secara kualitatif. Analisis kualitatif bertujuan untuk mengetahui
keberadaan asam amino bebas dalam suatu sampel. Asam amino bebas merupakan
asam amino dengan gugus amino yang tidak terikat (Prastika, dkk., 2019). |
|
4. Jelaskan bagaimana
mekanisme terbentuknya ikatan peptida pada protein beserta gambarnya! Peptida dapat terbentuk karena ada ikatan antara amida pada gugus amino dengan gugus hidroksil pada molekul lainnya dengan melalui proses kondensasi. Reaksi ini dibuktikan dengan lepasnya molekul air ketika reaksi ini berlangsung. Namun, pemecahan ikatan peptida disebut dengan hidrolisis (Fiser et al, 2015). |
|
5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan protein dan 4
tingkat struktur protein besersta gambarnya! Protein
aktif secara fungsional dlalam tiga dimensinya. Hampir semua mesin pada sel
didasarkan pada keterlibatan sejumlah protein. Kode struktural dari protein
tersembunyi ke dalam struktur utama yang mengandung asam amino (Dwevedi,
2014). Protein
adalah suatu polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu
sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen,
oksigen, nitrogen dan terkadang mengandung sulfur serta fosfor. Protein
berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup
(Rosmawati, 2013). Menurut
Sipayung (2013), protein memiliki empat struktur yaitu protein primer,
protein sekunder, protein tersier, protein kuartener. Struktur primer
tersusun dalam rantai asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida.
Pelipatan protein primer membentuk struktur tiga dimensi dan ikatan peptida
distabilkan oleh ikatan hidrogen yang disebut sebagai struktur sekunder.
Struktur tersier digambarkan sebagai pita-pita yang sederhana akan tetapi
menggambarkan lipatan-lipatan tertentu dari suatu protein. Struktur protein
kuartener merupakan protein yang paling kompleks karena memiliki lebih dari
satu rantai polipeptida yang akan dihubungkan dengan ikatan hidrogen serta
interaksi asam amino hidrofobiknya (Jufri, 2017). |
B.
TINJAUAN
PUSTAKA
1. Fungsi Reagen
1.1 Reagen Ninhydrin
|
Reagen
ninhyrin adalah suatu reagen yang berfungsi sebagai sebuah pengoksidator yang
sangat kuat yang dapat menyebabkan terjadinya dekarboksilasi aksidatif asam
α-amino agar menghasilkan suatu senyawa aldehid dengan atom karbon kurang
dari asam amino induknya. Senyawa ini termasuk hidrat dari triketon siklik,
bila bereaksi dengan asam amino menghasilkan zat yang memiliki warna ungu (Sinhababu,
2013). |
1.2
Reagen
Biuret
|
Reagen
biuret adalah suatu reagen yang digunakan untuk mendeteksi ikatan peptida
dalam suatu protein. Dalam uji biuret ini memiliki dua reagen yaitu CuSO4 dan
NaOH. Reagen-reagen tersebut dapat berbahaya jika tertelan, karena dapat
menyebabkan gangguan pencernaan dan menyebabkan iritasi saluran pernafasan
dengan luka bakar (Machin, 2012). |
2.
Tinjauan
Bahan
2.1
Gelatin
(ikatan peptida diberi tanda pada struktur + sitasi)
|
Gelatin
adalah sebuah produk yang biasa diperoleh dari hasil hidrolisis kolagen atau
protein utama dari daging/tulang/kulit hewan. Gelatin pada pemanfaatannya
sangat luas seperti sebagai bahan kosmetik, produk fermentasi, bahan tambahan
pada pangan seperti es krim, permen karet, pengental, dan mayonaise. Selain
itu sebagai bahan film, material medis, dan bahan baku kultur jasad renik.
Secara fisik gelatin berbentuk padat, kering, tidak berasa, dan transparan
(Suryati, dkk., 2015). |
2.2 Susu Skim (ikatan peptida diberi tanda pada struktur + sitasi)
|
Susu skim merupakan susu pada bagian lemaknya diambil sebagian atau seluruhnya pada saat didiamkan atau dipisahkan dengan menggunakan alat centrifugal separator. Proses pengurangan bagian lemak pada susu dapat menghasilkan produk olahan susu yang memiliki kandungan kalori lebih rendah dari susu segar, sehingga sangat cocok dikonsumsi untuk orang yang sedang diet rendah kalori. Susu skim merupakan sumber kalsium yang paling kaya, sehingga dapat dipakai untuk menghindari resiko terkena osteoporosis. Susu skim mengandung potassium, fosfor, niacin dan riboflavin yang sangat penting untuk kesehatan. Dalam pembuatan dadih susu kambing, penambahan susu skim sangat berpengaruh pada kadar air, kadar abu, kandungan protein, dan juga total gula dari dadih yang dihasilkan dari susu kambing (Mitharangga, 2018). |
2.3
MSG
(ikatan peptida diberi tanda pada struktur + sitasi)
|
Monosodium
Glutamate (MSG) adalah garam natrium dari asam glutamatdari rumpur laut
bernama Laminaria japonica yang biasa digunakan sebagai penyedap makanan.
Glutamat merupakan jenis asam amino penyusun protein dan merupakan komponen
alami dari dalam setiap makhluk hidup baik dalam bentuk yang terikat maupun
bebas. Semua makanan yang memiliki kandungan protein seperti daging, ikan,
susu, dan tanaman banyak mengandung glutamat. Glutamat yang masih terikat
dengan asam amino lain sebagi protein tidak memiliki, tetapi dalam bentuk
bebas memiliki rasa gurih. Semakin tinggi kandungan glutamat bebas dalam
suatu makanan, semakin kuat rasa gurihnya (Yonata dan Iswara, 2016). |
2.4
Aspartam
(ikatan peptida diberi tanda pada struktur + sitasi)
|
Aspartam
merupakan salah satu jenis bahan aditif sintetik. Aspartam merupakan golongan
senyawa metil ester dipeptida, yakni L-aspartil-L-alanin-metilester dengan
rumus C14H12N2O5. Aspartam
merupakan serbuk putih, tak berbau, sedikit larut dalam air dan etanol dan
berasa manis. Aspartam hanya stabil di suhu kamar dan di pH 4-5 (Thohir,
2015). |
D.
DATA HASIL PRAKTIKUM
1. Uji Ninhidrin
a.
Tuliskan data hasil uji Ninhidrin
|
No. |
Sampel |
Sebelum
Pemanasan (Warna dan fisik) |
Sesudah
Pemanasan (Warna dan fisik) |
Hasil
uji (+/-) |
|
1 |
Susu
Skim |
Bening Keruh dan ada endapan
dibawah |
Ungu bening |
Positif (+) |
|
2 |
MSG |
Ungu bening |
Ungu pekat |
Positif (+) |
|
3 |
Aspartam |
Bening sedikit keunguan |
Putih keruh |
Negatif (-) |
|
4 |
Gelatin |
Putih Keruh |
Bening |
Negatif (-) |
2. Uji
Biuret
a. Tuliskan data hasil uji Biuret
|
No. |
Sampel |
Sebelum ditambah reagen (Warna
dan fisik) |
Sesudah ditambah reagen (Warna
dan fisik) |
Hasil uji (+/-) |
|
1 |
Susu skim |
Kuning
keruh |
Kuning
keruh dengan cincin ungu |
Positif
(+) |
|
2 |
MSG |
Bening |
Bening |
Negatif
(-) |
|
3 |
Gelatin |
Bening |
Bening |
Negatif
(-) |
|
4 |
Aspartam |
Bening keruh |
Bening |
Negatif (-) |
E. ANALISIS PROSEDUR
1.
Uji Ninhidrin
Sebelum
melakukan praktikum, gunakan lateks, kacamata googles, dan masker. Kemudian, persiapkan
alat dan bahan terlebih dahulu. Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara
lain, tabung reaksi, gelas beaker, pipet ukur, bulb, rak tabung reaksi, kompor,
vorteks. Bahan yang digunakan antara lain, gelatin, susu skim, msg, aspartam,
dan reagen ninhidrin. Prosedur untuk melakukan praktikum ini yaitu menuangkan
semua sampel kedalam tabung reaksi sebanyak 2 ml. Selanjutnya, menambahkan
reagen kedalam tabung reaksi masing-masing sampel sebanyak 2 ml. Dalam mengambi
larutan dengan pipet ukur, mata harus sejajar dengan skala yang ada di pipet
ukur. Setelah ditambahkan reagen, homogenkan larutan dengan menggunakan
vorteks. Setelah larutan homogen, masukkan tabung reaksi yang berisi sampel
kedalam air mendidih hingga terjadi perubahan warna pada larutan. Kemudian,
amati hasil yang diperoleh.
2.
Uji Biuret
Sebelum melakukan praktikum, gunakan lateks, kacamata
googles, dan masker. Kemudian, persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu. Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara
lain, tabung reaksi, gelas beaker, pipet ukur, bulb, rak tabung reaksi,
vorteks, dan pipet tetes. Bahan yang digunakan antara lain, gelatin, susu skim,
MSG, aspartam, NaOH 10%, CuSO4 0,01%. Prosedur
untuk melakukan praktikum ini yaitu memasukan semua sampel ke dalam
tabung reaksi sebanyak 3 ml. Selanjutnya ditambahkan NaOH 10% sebanyak 1 ml.
Saat menggunakan pipet ukur pandangan harus lurus dengan skala yang ada didalam
pipet ukur tersebut. Setelah ditambahkan larutan NaOH 10% sebanyak 1 ml,
larutan dihomogenkan dengan menggunakan vorteks. Setelah semua larutan telah
dihomogenkan, tambahkan CuSO4 sebanyak 6 tetes menggunakan pipet
tetes. Saat meneteskan diusahakan dekat dengan larutannya. Kemudian, amati
hasil yang diperoleh.
F.
ANALISIS HASIL
1. Bahas
dan bandingkan data-data hasil uji Ninhydrin dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!
o
Hasil uji Ninhydrin dibandingkan dengan literatur
Berdasarkan
hasil praktikum ini, terdapat empat sampel yang digunakan antara lain, susu
skim, monosodium glutamat (MSG), aspartam, dan gelatin. Percobaan pada sampel
yang pertama yaitu susu skim. Sampel sebanyak 2 ml dimasukkan ke dalam tabung
reaksi. Lalu ditambahkan reagen ninhidrin sebanyak 2 ml. Pada susu skim,
sebelum pemanasan larutan berwarna bening keruh dan ada endapan dibawah.
Kemudian, sesudah pemanasan larutan berubah menjadi warna ungu bening. Hasil
uji ini menyatakan positif. Hasil dari uji ini sesuai dengan literatur bahwa
uji ninhidrin pada susu skim menghasilkan uji positif dengan terbentuknya warna
ungu karena terjadi reaksi antara reagen ninhidrin dengan struktur kasein pada
susu (Maurya et al, 2019).
Percobaan
pada sampel yang kedua yaitu monosodium glutamat (MSG). Sampel sebanyak 2 ml
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan reagen ninhidrin sebanyak 2
ml. Pada monosodium glutamat (MSG), sebelum pemanasan larutan berwarna ungu
bening . Kemudian, sesudah pemanasan larutan berubah menjadi warna ungu pekat.
Hasil uji ini menyatakan positif. Hasil dari uji ini sesuai dengan literatur
bahwa reagen ninhidrin dapat bereaksi dengan asam amino bebas pada MSG berupa
glutamat setelah dilakukan pemanasan dalam penangas air menghasilkan warna dari
bening menjadi ungu, sehingga menghasilkan uji positif terhadap uji ninhidrin
(Nuradi, 2018).
Percobaan
pada sampel yang ketiga yaitu aspartam. Sampel sebanyak 2 ml dimasukkan ke
dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan reagen ninhidrin sebanyak 2 ml. Pada aspartam,
sebelum pemanasan larutan berwarna bening sedikit keunguan. Kemudian, sesudah
pemanasan larutan berubah menjadi warna putih keruh. Hasil uji ini menyatakan negatif.
Hasil dari uji ini tidak sesuai dengan literatur. Dalam literatur dijelaskan
bahwa reaksi aspartam dengan reagen ninhidrin menghasilkan warna ungu dan juga
dibutuhkan pemanasan karena aspartam mengandung asam amino yaitu fenilalanin
dan asam aspartam yang dapar berikatan dengan ninhidrin. Satu aspartam akan
diikat dengan dua ninhidrin (Thohir, 2015).
Percobaan
pada sampel yang keempat yaitu gelatin. Sampel sebanyak 2 ml dimasukkan ke
dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan reagen ninhidrin sebanyak 2 ml. Pada gelatin,
sebelum pemanasan larutan berwarna putih keruh. Kemudian, sesudah pemanasan
larutan berubah menjadi warna bening. Hasil uji ini menyatakan negatif. Hasil
dari uji ini tidak sesuai dengan literatur. Dalam literatur dijelaskan bahwa gelatin
tersusun dari asam amino yang memiliki struktur sangat kompleks seperti prolin
dan hidroksi prolin, sehingga ninhidrin bereaksi dengan kedua asam amino
tersebut dan membentuk warna kuning (Marzuki, dkk., 2011).
o
Reaksi yang terjadi
Menurut
Agustina dan Yeti (2013), bahwa reaksi yang terjadi pada uji ninhidrin yaitu
asam α-amino akan terpecah karena adanya reduksi dari
asam amino, sehingga terbentuklah ninhidrin tereduksi aldehid, NH2
disertai dengan lepasnya gas CO2. Kemudian, ninhidrin tereduksi
bereaksi dengan ammonia dan ninhidrin yang lain, sehingga terjadi proses
kondensasi yang melepaskan 3 molekul H2O dan menghasilkan garam yang
menghasilkan kompleks warna biru tua hingga ungu. Mekanisme reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut.
2.
Bahas dan bandingkan
data-data hasil uji Biuret dari beberapa sampel dalam percobaan ini!
o Hasil uji biuret
dibandingkan dengan literatur
Berdasarkan
hasil praktikum ini, terdapat empat sampel yang digunakan antara lain, susu
skim, monosodium glutamat (MSG), aspartam, dan gelatin. Percobaan pada sampel
yang pertama yaitu susu skim. Sampel sebanyak 3 ml dimasukkan ke dalam tabung
reaksi. Lalu ditambahkan NaOH 10% sebanyak 1 ml. Kemudian dihomogenkan dengan menggunakan
vorteks. Lalu, ditambahkan 6 tetes CuSO4. Pada susu skim, sebelum ditambahkan reagen
larutan berwarna kuning keruh. Kemudian, setelah ditambahkan reagen, larutan
menjadi warna kuning keruh dengan cincin ungu. Hasil uji ini menyatakan
positif. Hasil dari uji ini sesuai dengan literatur bahwa terbentuknya warna
ungu akibar dari ikatan antara ion Cu2+ dengan CO dan NH yang ada
pada ikatan peptida suatu senyawa dalam suasana basa. Semakin banyak ikatan
peptida yang terdapat pada sampel, maka akan terbentuk warna ungu (Suardi,
2020).
Percobaan
pada sampel yang kedua yaitu monosodium glutamat (MSG). Sampel sebanyak 3 ml
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan NaOH 10% sebanyak 1 ml.
Kemudian dihomogenkan dengan menggunakan vorteks. Lalu, ditambahkan 6 tetes
CuSO4. Pada monosodium
glutamat (MSG), sebelum ditambahkan reagen larutan berwarna bening. Kemudian,
setelah ditambahkan reagen, tidak terjadi perubahan warna pada larutan karena
larutan tetap bening. Hasil uji ini menyatakan negatif. Hasil dari uji ini
tidak sesuai dengan literatur. Dalam literatur dijelaskan bahwa MSG terdiri
dari asam amino glutamat yang akan bereaksi dengan pereaksi CuSO4
yang sebelumna dibasakan dengan larutan NaOH. Kemudian, ditandai dengan
perubahan warna dari yang sebelumnya keruh menjadi warna biru keunguan (Nuradi,
2018).
Percobaan
pada sampel yang ketiga yaitu aspartam. Sampel sebanyak 3 ml dimasukkan ke
dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan NaOH 10% sebanyak 1 ml. Kemudian
dihomogenkan dengan menggunakan vorteks. Lalu, ditambahkan 6 tetes CuSO4. Pada aspartam, sebelum ditambahkan reagen
larutan berwarna bening. Kemudian, setelah ditambahkan reagen, tidak terjadi
perubahan warna pada larutan karena larutan tetap bening. Hasil uji ini
menyatakan negatif. Hasil dari uji ini sesuai dengan yang ada di literarut
bahawa aspartam hanya terdiri dari asam aspartam dan fenilalanin, sehingga
hanya ada satu ikatan peptida dalam aspartam. Oleh karena itu, tidak dapat
hasil uji positif terhadap uji biuret (Melja, 2019).
Percobaan
pada sampel yang keempat yaitu gelatin. Sampel sebanyak 3 ml dimasukkan ke
dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan NaOH 10% sebanyak 1 ml. Kemudian
dihomogenkan dengan menggunakan vorteks. Lalu, ditambahkan 6 tetes CuSO4. Pada gelatin, sebelum ditambahkan reagen
larutan berwarna bening keruh. Kemudian, setelah ditambahkan reagen, larutan
menjadi warna bening. Hasil uji ini menyatakan negatif. Hasil dari uji ini
tidak sesuai dengan literatur. Dalam literatur dijelaskan bahwa pada gelatin
ketika diuji dengan pereaksi biuret pada keadaan basa akan menghasilkan
perubahan warna ungu. Karena senyawa kompleks Cu2+ akan bereaksi
dengan ikatan peptida yang banyak pada gelatin (Marzuki, dkk., 2011).
o Reaksi yang terjadi
Reaksi positif terhadap uji biuret terjadi ketika suatu sampel mengandung ikatan peptida dua atau lebih pada protein. Warna kompleks ungu yang terbentuk akibat reaksi ion Cu2+ dengan ikatan peptida yang terkandung pada sampel. Lalu, reaksi tersebut pada suasana yang alkali atau basa, sehingga terbentuk senyawa kompleks berwarna ungu (Astuti dan Fitriyanti, 2020).
PERTANYAAN
1.
Bagaimana reaksi pembentukan warna pada Uji Ninhydrin dapat terjadi?
Pada uji ninhydrin warna
ungu pada larutan disebabkan karena asam amino akan terpecah karena adanya
reduksi dari asam amino dan terbentuk ninhidrin tereduksi, aldehid, NH3
disertai dengan terlepasnya gas CO2. Kemudian, terjadi reaksi antara
ninhidrin tereduksi dengan ammonia dan ninhidrin yang lain, sehingga akan
terjadi proses kondensasi yang melepaskan 3 molekul H2O dan
menghasilkan garam diketohylhalide-diketo-hydramine. Garam inilah yang
menghasilkan kompleks warna biru tua hingga ungu (Lestari, dkk., 2018).
2. Apa fungsi pemansan pada uji Ninhydrin?
Fungsi pemanasan pada uji ninhydrin yaitu
untuk membuat protein mengalami denaturasi atau kerusakan. Jadi, diharapkan
molekul protein yang terdiri dari banyak polipeptida dapat terputus menjadi
molekul-molekul penyusunnya yang lebih kecil. Oleh karena itu, diharapkan hal
tersebut diharapkan dapat mempercepat reaksi (Prastika, dkk., 2018).
3. Mengapa pada uji biuret NaOH ditambahkan pertama kali kedalam
sampel?
NaOH pertama kali dimasukkan ke dalam sampel karena untuk menambahkan suasana basa ke dalam larutan pada sampel. NaOH membuat larutan suatu protein menjadi alkalis. Oleh karena itu, pada saat ditambahkan dengan CuSO4 dapat bereaksi dengan sampel membentuk senyawa kompleks berwarna ungu (Purnama, 2019).
KESIMPULAN
Tujuan dari diadakannya praktikum ini adalah dapat
mengetahui prinsip dasar dari uji kualitatif protein. Selain itu untuk
mengetahui perbedaan prinsip dari masing-masing metode. Pada praktikum ini
digunakan dua uji, yaitu uji ninhidrin dan uji biuret. Alat yang digunakan
dalam praktikum ini adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur, bulb,
pipet tetes, kompor, vorteks, gelas beaker. Bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah susu skim, gelatin, aspartam, monosodium glutamat (MSG),
reagen ninhidrin, reagen biuret, dan NaOH 10%.
Pada uji ninhidrin yaitu menguji ada atau tidaknya
gugus amino bebas sebagai bentuk uji kualitatif protein dalam suatu senyawa
dengan menambahkan reagen ninhidrin yang terkandung didalamnya. Selain itu
untuk mengetahui ada tidaknya asam amino bebas yang mana asam amino bebas akan
bereaksi dengan ninhidrin dan membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Pada
uji ninhidrin terdapat empat sampel yang digunakan yaitu, susu skim, MSG,
aspartam, dan gelatin. Uji ninhidrin pada susu skim menghasilkan uji positif.
Kemudian, uji ninhidrin pada MSG menghasilkan uji positif. Selanjutnya, uji
ninhidrin pada aspartam menghasilkan uji negatif. Namun, hasil ini tidak sesuai
dengan literatur yang seharusnya menghasilkan uji positif. Lalu, uji ninhidrin
pada gelatin menghasilkan uji negatif. Namun, hasil ini tidak sesuai dengan
literatur yang seharusnya menghasilkan uji positif.
Pada uji biuret yaitu menguji ada atau tidaknya protein dalam suatu senyawa dengan penambahan NaOH dan CuSO4 berdasarkan ada tidaknya ikatan peptida di mana ion Cu2+ di dalam suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein dan membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Pada uji biuret terdapat empat sampel yang digunakan yaitu, susu skim, MSG, aspartam, dan gelatin. Uji biuret pada susu skim menghasilkan uji positif. Kemudian, uji biuret pada MSG menghasilkan uji negatif. Namun, hasil ini tidak sesuai dengan literatur yang seharusnya menghasilkan uji positif. Selanjutnya, uji biuret pada aspartam menghasilkan uji negatif. Lalu, uji biuret pada gelatin menghasilkan uji negatif. Namun, hasil ini tidak sesuai dengan literatur yang seharusnya menghasilkan uji positif.
Abidin, Asdiana. 2016. Analisis
Sifat Fisikokimia Gelatin dari Kulit Kuda (Equus caballus). Skripsi.
Fakultas Sains dan Teknologi: UIN Alauddin Makassar.
Agustina,
S., dan Y. Kurniasih. 2013. Pembuatan Seminar Nasional MIPA. Prosiding
Seminar Nasional FMIPA UNDIKSHA III. Hal. 365-372.
Dirga,
Asyhari, N., dan A. D. Djayanti. 2018. Analisis Protein pada Tepung Kecambah
Kacang Hijau (Phaseolus aureus L.). Journal of Science and
Applicative Technology. 2(1): 27-33.
Dwevedi,
Alka. 2014. Protein Folding: Examining the Challengen from Synthesis to
Folded Form. Gurgaon: Spinger.
Fiser,
B., Jojart, B., Milan, Lendvay, G., Csizmadia, I. G., and B. Viskolcz. 2015.
Glutathione as a Prebiotic Answer to the Peptide Based Life. The Journal of
Physical Chemistry. 119(10): 3940-3947.
Indarto.
2015. Uji Kualitatif dan Kuantitatif Golongan Senyawa Organik dari Kulit dan
Kayu Batang Tumbuhan Artocarpus dadah Miq. Jurnal Ilmiah Pendidikan
Fisika Al-Biruni. 4(1): 75-84.
Jufri,
N. 2017. Analisis Protein Ikan Kakap Merah (Lutjanus sp) Berbasis SDS-Page
dengan Vasiasi Lama Marinasi dan Konsentrasi Asam Cuka. Semarang:
Universitas Muhammadiyah.
Machin,
A. 2012. Potensi Hidrolisat Tempe Sebagai Penyedap Rasa Melalui Pemanfaatan
Ekstrak Buah Nanas. Biosaintifika. 4(2): 70-77.
Mitharangga,
R. I. 2018. Pengaruh Penambahan Susu Bubuk Skim Terhadap Nilai Total Padatan,
pH, Gula Reduksi dan Kadar Lemak pada Pembuatan Dadih Susu Kambing. Skripsi.
Fakultas Peternakan: Universitas Brawijaya.
Prastika,
H. H., Ratnayani, K., Pupawati, N. M., dan A. A. I. A. Mayun Laksmiwati. 2019.
Penggunaan Enzim Pepsin untuk Produksi Hidrolisat Protein Kacang Gude (Cajanus
cajan (L.) Millsp.) yang Aktif Antioksidan. Cakra Kimia - Indonesian
E-Journal of Applied Chemistry. 7(2): 180-188.
Prihanto,
A. A., dan A. A. Jaziri. 2019. Bioteknologi Perikanan dan Kelautan.
Malang: Universitas Brawijaya Press.
Rosmawati,
T. 2013. Lama Perebusan Terhadap Kandungan Protein pada Kerang Darah. Jurnal
Biology Science & Education. 2(2): 103-109.
Sinhababu,
Amalendu. 2013. Modified Ninhydrin reagent for the detection of amino acids on
TLC plates. Journal of Applied and Naturan Science. 5(1): 125-127.
Sipayung,
Davit. 2013. Dinamika Nonlinier pada Protein Sekunder dalam Pengaruh Medan
Magnet Abelian. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam:
Universitas Indonesia.
Sitepu,
G. A., Putri, E. R. R., dan Inayah. 2020. Isolasi Enzim Laktase untuk
Mengurangi Kdar Laktosa Susu bagi Penderita Intoleransi Laktosa. Prosiding
The 11th Industrial Research Workshop and National Seminar.
Bandung: 26-27 Agustus 2020. Hal. 720-724.
Suyarti,
Nasrul Z. A., Meriatna, dan Suryani. 2015. Pembuatan dan Karakterisasi Gelatin
dari Ceker Ayan dengan Proses Hidrolisis. Jurnal Teknologi Kimia Unimal.
4(2): 66-79.
Thohir,
M. B. 2015. Pembuatan Sensor Kimia Sederhana untuk Mendeteksi Aspartam pada
Minuman Kemasan dengan Reagen Ninhidrin. Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi:
Universitas Islam Negeri Malang.
Widodo,
Eka. 2018. Ilmu Nutrisi Unggas. Malang: Universitas Brawijaya Press.
Yolanda,
Maria. 2011. Optimasi dan Validasi Metode Penetapan Kadar Aspartam dalam
Minuman Serbuk Beraroma Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Fase Terbalik.
Skripsi. Fakultas Farmasi: Universitas Sanata Dharma.
Yonata,
A., dan I. Iswara. 2016. Efek Toksik Konsumsi Monosodium Glutamate. Medical
Journal of Lampung University. 5(3): 100-104.
DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN
Astuti,
K. I., dan F. Fitriyanti. 2020. Karakteristik Protein Ikan Sepat Rawa (Trichopodus
Thricopterus) Asal Kalimatan Selatan yang Berpotensi Sebagai Antidiabetes. Jurnal
Ilmiah Ibnu Sina. 5(1): 201-210.
Jamaluddin,
J., Gunawan, G., Nurhafsah, S., Jerni, P. A., Okvhyanitha, D., Mantika, A. F.,
Jessica, dan A. Widodo. 2020. Kadar Albumin Pada Ikan Sidat Anguilla marmorata
Q Gaimard dan Anguilla bicolor Asal Sungai Palu dan Danau Poso. Ghidza:
Jurnal Gizi dan Kesehatan. 4(1): 60-68.
Marzuki,
A., Pakki, E., dan F. Zulfikar. 2011. Ekstaksi dan Penggunaan Gelatin dari
Limbah Tulang Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) Sebagai Emulgator
Dalam Formulasi Sediaan Emulsi. Majalah Farmasi dan Farmakologi. 15(2):
63-68.
Maurya,
S. K., Asthana, A., Maurya, S. P., Maurya, P., and A. Maurya. Qualitative
Analysis of Protein: Egg Albumin and Milk. Indian Journal of Drugs.
7(1): 30-33.
Melja,
V. V. 2019. Perbandingan Efek Protektif Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Sanctum)
dan Kurkuma (Curcuma Xanthoriza) Terhadap Fungsi Hepar Tikus Wistar
Jantan yang di Induksi Aspartam. Skripsi. Fakultas Kedokteran: Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara.
Nuradi.
2018. Analisis Kadar Merkuri pada Krim Pemutih yang di Perjual Belikan Secara
Online di Kota Makasar. Global Health Science (GHS). 3(1): 81-87.
Prastika,
H. H., Ketut, R., Ni, M. P., dan A. A. I. A. M. Laksmiwati. 2019. Cakra
Kimia (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry). 7(2): 180-188.
Prastika,
H. H., Ratnayani, K., Puspawati, N. M., dan A. A. I. A. M. Laksmiwati. 2019.
Penggunaan Enzim Pepsin untuk Produksi Hidrolisat Protein Kacang Gude (Cajanus
cajan (L.) Millsp.) yang Aktif Antioksidan. Cakra Kimia (Indonesia
E-Journal of Applied Chemistry). 7(2): 180-188.
Purnama,
R. C., Retnaningsih, A., dan I. Aprianti. 2019. Perbandingan Kadar Protein Susu
Cair UHT Full Cream Pada Penyimpanan Suhu Kamar dan Suhu Lemari Pendingin
dengan Variasi Lama Penyimpanan dengan Metode Kjeldhal. Jurnal Analis
Farmasi. 4(1): 50-58.
Putri,
N. F., Suardana, I. W., dan I. H. Utama. Karakteristik Fisiokimia dan Uji
Aktivitas Antimikroba Bakteriosin Isolat Bakteri Asam Laktat 17B Hasil Isolasi
Kolom Sapi Bali. Buletin Veteriner Udayana. 10(2): 110-115.
Suardi,
S., Bahri, S., Sumarni, N. K., dan E. A. Rahim. 2020. Perbandingan Kadar
Albumin Ikan Gabus (Channa striata) dari Proses Perebusan dan Pengukusan
dengan Menggunakan Uji Biuret. KOVALEN: Jurnal Riset Kimia. 6(1): 67-73.
Thohir,
M. B. 2015. Pembuatan Sensor Kimia Sederhana untuk Mendetekai Aspartam pada
Minuman Kemasan Dengan Reagen Ninhidrin. Skripsi. Fakultas Sains dan
Teknologi: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Komentar
Posting Komentar