LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 2) IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALDEHID DAN KETON


BAB 2

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALDEHID DAN KETON

 

TUJUAN:

       Membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan uji Tollens dan Fehling

       Memahami reaksi yang terjadi selama uji Tollens dan Fehling

 

1. PRE-LAB

1. Sebutkan prinsip uji tollens dan uji fehling!

Uji tollens digunakan untuk membedakan antara aldehid dan keton berdasarkan sifat kemudahannya mengalami oksidasi. Prinsip pada percobaan tollens yaitu mengidentifikasi senyawa aldehid dan keton yang merupakan senyawa-senyawa yang mengandung gugus karbonil. Reaksi dari uji tollens yaitu formaldehid + tollens → asam karboksilat + endapan Ag (Purwanto, dkk., 2019).

Uji fehling digunakan untuk menunjukkan sifat khusus karbohidrat dengan adanya karbohidrat pereduksi. Hasil uji menunjukkan bahwa glukosa dan sukrosa merupakan gula yang dapat mereduksi larutan fehling dan sebagai karbohidrat pereduksi. Prinsip uji fehling adalah membedakan gugus senyawa aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan menambahkan reagen fehling A dan fehling B, dimana fehling A adalah larutan CuSO4 sedangkan fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartrat. Reaksi positif pada uji fehling adalah adnya endapan merah bata (Fitri dan Fitriana, 2020).

 

2. Jelaskan reaksi gugus fungsi dan reagen yang terjadi pada uji tollens!

Pereaksi tollen sering disebut sebagai perak amoniakal merupakan campuran dari perak nitrat dan amonium hidroksida berlebihan. Reaksi yang terjadi antara gugus fungsi dengan reagen tollens yaitu gugus fungsi ditambah dengan reagen tollens (Ag2O) bereaksi menjadi cermin perak. Gugus fungsi akan bereaksi apabila gugus fungsi merupakan aldehid (Master, 2020)


4. Jelaskan perbedaan fundamental antara aldehid dan keton!

Terdapat dua perbedaan antara aldehid dan keton. Perbedaan yang pertama yaitu, aldehid dapat bereaksi dengan pereaksi tollens menghasilkan cermin perak, sedangkan keton tidak dapat bereaksi dengan pereaksi tollens. Perbedaan yang kedua yaitu, aldehid dapat bereaksi dengan reagen fehling menghasilkan endapan merah bata Cu2O, sedangkan keton tidak dapat bereaksi dengan reagen fehling (Rusmiati, 2015).

 

5. Sebutkan kegunaan aldehid dan keton dalam keseharian!

Kegunaan aldehid dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :

·         Larutan 40% formaldehid disebut formalin digunakan unuk pengawet preparat anatomi.

·         Formaldehid bersifat mengubah protein menjadi zat yang kenyal dan padat

·         Formaldehid dengan fenol berpolimerisasi membentuk plastik.

·         Formaldehid untuk pembuatan lem kayu.

·         Asetaldehid adalah bahan baku DDT.

Kegunaan keton dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :

·         Bahan yang penting bagi berbagai sintesis

·         Bahan pembuatan kosmetik (cat kuku, parfum)

·         Bahan dasar pembuatan kloroform, iodoform.

(Kurniawati, 2015)


 

2. TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1    Pengertian Aldehid

Aldehid merupakan salah satu kelompok senyawa karbon yang memiliki gugus karbonik (C=O), gugus karbonil tersebut terletak diujung rantai karbon induk yang diakhiri dengan atom hidrogen. Aldehid merupakan senyawa polar dan mendidih pada suhu tinggi dan pada senyawa nonpolar dengan berat molekul yang sama. Aldehid merupakan senyawa organik teroksigenasi dengan berat molekul yang lebih rendah (Ali, dkk., 2015).

 

2.2    Pengertian Keton

Keton memiliki gugus asli dengan gugus alkil yang lain atau gugus aril yang terikat dengan karbon karbonil. Keton memiliki struktur dan tata nama yang mengandung gugus karbonil (C=O), tata nama keton adalah alkol keton atau propanon. Keton larut dalam air dan titik didihnya sebanding dengan kenaikan berat molekul. Keton mempunyai aroma fruity dan aroma floral dan berperan penting pada produk pangan fermentasi (Dzarnisa dan Latif, 2014).

 


 

2.3    Tinjauan Bahan

a.     Tollens (AgNO3)

Senyawa AgNO3 merupakan senyawa logam yang berasal dari logam perak yang direaksikan dengan larutan asam nitrat pekat. AgNO3 berupa padatan kristal putih yang tidak berbau. AgNO3 dapat bereaksi dengan karbon dan menghasilkan metana, hidrogen, karbondioksida, monoksida membentuk gas sintetis (Addiin dan Yamtinah, 2016).

 

b.    NH4OH

Amonium hidroksida (NH4OH) adalah senyawa basa bentuk dari amonia (NH3) yang terionisasi dan terlarut dalam air. Amonia bereaksi secara reversibel dengan air menghasilkan ion amonium (NH4+) dan ion hidroksida (OH-). NH4OH bersifat volatil sehingga tidak akan mempengaruhi konduktivitas air bakunya (Cahyaninggalih, dkk., 2018).

Amonium hidroksida merupakan golongan amonia yang biassa digunakan sebagai pendingin, pupuk, bahan pembersih dan pemutih, dan pada bahan keperluan rumah tangga lainnya. Amonium hidroksida merupakan larutan yang berwujud cair, tidak berwarna, bau yang kuat, sangat larut dalam air dan mempunyai pH basa yaitu 13,6. Amonium hidroksida mempunyai berat molekul 35,04 g/mol (Lubis dan Zainul, 2018).

 

 

c.      NaOH

Nama lain dari senyawa NaOH adalah soda api atau soda kaustik. NaOH disebut sebagai soda api atau soda kaustik karena memberikan rasa terbakar kalua terkena kulit. NaOH termasuk basa kuat yang digunakan dalam industry tekstil, proses pemutihan di industri kertas, dan sebagai bahan pembuatan sabun. (Rahayu, 2012).

NaOH berbentuk zat padat berwarna putih. Kelarutan dalam airnya terionisasi sempurna. NaOH memiliki sifat basa kuat dan bersifat korosif (Khaldun, 2014).

 

 

d.    Fehling A

Fehling A merupakan larutan CuSO4. Fehling A merupakan larutan biru tembaga sulfat. Larutan CuSO4 merupakan senyawa anorganik. Larutan CuSO4 merupakan larutan elektrolit (Sufia, dkk., 2018).

 

 

e.     Fehling B

Fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium tatrat. Fehling B mengandung NaOH dan Na-K-Tatrat yang merupakan alkali. Fehling B berfungsi untuk mencegah Cu2+ mengendap dalam suasana alkalis. Fehling B merupakan larutan tak berwarna kalium natrium tartrat encer yang dibuat dengan kuat (Harianja, dkk., 2015).

 

 

f.  Aseton

Aseton dengan sebutan lain 2-propanol atau dimetil keton, memiliki sifat-sifat, yaitu memiliki rumus molekul C3H6O. Kenampakannya pada senyawa ini tak berwarna. Senyawa ini memiliki titik didih 56,29oC. Senyawa ini juga bersifat sangat larut di dalam air (Rini, 2017).

 

 

g.    Glukosa

Glukosa merupakaan salah satu bentuk hasil metabolisme karbohidrat yang berfungsi sebagai sumber energi utama yang dikontrol oleh insulin. Glukosa mempunyai rumus umum C6H12O6 yang disebut sebagai dekstrosa. Glukosa merupakan monosakarida yang mengandung enam atom karbon. Glukosa mengandung gugus -CHO sehingga glukosa merupakan kelompok aldosa (Anggraeni, dkk., 2013).

 

 

h.    Fruktosa

Fruktosa adalah isomer dari glukosa. Fruktosa dan glukosa memiliki rumus molekul yang sama yaitu C6H12O6. Akan tetapi, memiliki struktur yang berbeda. Fruktosa murni rasanya sangat manis. Fruktosa memiliki warna putih, berbentuk seperti kristal padat, dan sangat mudah larut dalam air. Kelebihan fruktosa dibanding unsur gula lainnya, yaitu fruktosa mudah untuk didapatkan dan mudah untuk dimetabolisme spermatozoa sebagai sumber energi (Irfianti dan Wenny, 2019).

 

 

i.  Sukrosa

Rumus kimia sukrosa yaitu C12H22O11. Sukrosa mempunyai sifat fisik yaitu tak berwarna, larut di dalam air dan etanol. Namun, tidak larut di dalam eter dan kloroform, titik lebur 180oC. Sukrosa memiliki bentuk kristal monoklin, bersifat optis aktif, densitas kristal 1588 kg/m3 (pada 15oC). Sukrosa memiliki sifat kimia yaitu dalam suasana asam dan suhu tinggi akan mengalami inverse menjadi glukosa dan fruktosa (Mulyakin, 2020).

 

 

j.  Formalin

Formaldehida (CH2O) adalah suatu campuran organik yang dikenal dengan nama aldehida, membeku pada suhu kurang dari 92oC dan mendidih pada suhu 300oC. Sifat fisik larutan formaldehida merupakan cairan jernih, tidak berwarna atau hampir tidak memiliki warna, memiliki bau yang menusuk, uap merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Jika disimpan di tempat dingin dapat menjadi keruh. Biasanya disimpan di dalam wadah tertutup, terlindungi dari cahara dengan suhu tempat penyimpanan di atas 20oC. Formaldehida pada umumnya memiliki sifat kimia yang sama dengan aldehida. Namun, lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan elektrofil sehingga bisa dipakai dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan alkena. Keadaan katalis bisa mengakibatkan formaldehida menghasilkan asam format dan metanol (Tangdiongga, dkk., 2015).

 

 

4. DATA HASIL PENGAMATAN

4.1 Uji Tollens

Sampel

Reagen Tollens + NH4 OH

Sampel + Reagen Tollens (Tanpa Pemanasan)

Sampel + Reagen Tollens (Setelah Pemanasan)

Hasil uji (+/-)

Formaldehid

Bening (Endapan menghilang)

Agak Keruh

Abu-abu, ada endapan cermin perak

+

Aseton

Bening (Endapan menghilang)

Tetap Bening

Tetap Bening

-

Glukosa

Bening (Endapan menghilang)

Tetap Bening

Abu-abu, ada endapan cermin perak

+

Fruktosa

Bening (Endapan menghilang)

Keruh

Tetap Keruh

-

Sukrosa

Bening (Endapan menghilang)

Tetap Bening

Bening

-

 

4.2 Uji Fehling

Sampel

Reagen Fehling + NaOH

Sampel + Reagen Fehling (tanpa pemanasan)

Sampel + Reagen Fehling (setelah pemanasan)

Hasil uji (+/-)

Formaldehid

Biru Muda

Biru Kehitaman

Endapan merah bata

+

Aseton

Biru Muda

Biru Jernih

Biru Jernih

-

Glukosa

Biru Muda

Hijau Kebiruan

Hijau kebiruan

-

Fruktosa

Biru Muda

Kuning Kebiruan

Endapan merah bata

+

Sukrosa

Biru Muda

Biru Muda

Biru Tua gradasi hitam

-

 

5. PEMBAHASAN

5.1 Uji Tollens

a.  Prinsip

            Prinsip uji tollens yaitu membedakan aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan menambahkan reagen tollens yaitu AgNO3 di mana hasil positifnya adalah terbentuk cermin perak. Uji fehling digunakan untuk menunjukkan sifat khusus karbohidrat dengan adanya karbohidrat pereduksi. Hasil uji menunjukkan bahwa glukosa dan sukrosa merupakan gula yang dapat mereduksi larutan fehling dan sebagai karbohidrat pereduksi (Fitri dan Fitriana, 2020).

 

b.  Analisa Prosedur

            Sebelum praktikum dilakukan, persiapkan alat dan bahan terlebih dahulu. Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukkan reagen AgNO3 5% kedalam tabung reaksi sebanyak satu mili ke dalam masing-masing tabung reaksi. Selanjutnya, tambahkan lima s.d. sepuluh tetes NH4OH ke masing-masing tabung reaksi. Kemudian, tambahkan NH4OH sampai warna larutan berubah menjadi bening. Lalu tambahkan satu mili sampel ke masing-masing tabung rekasi. Untuk mencegah kontaminasi, pipet ukur bisa diganti pada masing-masing sampel. Setelah sampal dimasukkan, lakukan pemanasan menggunakan bunsen. Pemanasan dilakukan kurang lebih dua menit. Posisi tabung reaksi harus miring. Setelah itu amati hasil yang diperoleh.

 

c.  Analisa Hasil

            Berdasarkan hasil pengamatan pada uji tollens terdapat lima sampel yang digunakan, yaitu formaldehid, aseton, glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Percobaan pada sampel formaldehid saat AgNO3 ditambahkan dengan NH4OH, larutan menjadi bening. Saat sampel formaldehid  dimasukkan sebanyak satu mili warna larutan berubah menjadi agak keruh. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, sehingga terbentuk warna abu-abu dan ada endapan cermin perak. Adanya endapan cermin perak ini menandakan bahwa uji tollens pada sampel formaldehid positif dikarenakan terjadinya reaksi antara sampel dan reagen tollens. Hal ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa formaldehid merupakan aldehid karena terbentuknya cermin perak yang merupakan indikator bahwa adanya gugus aldehid (Juliandi dkk, 2018).

            Percobaan pada sampel aseton saat AgNO3 ditambahkan dengan NH4OH, larutan menjadi bening. Saat sampel aseton dimasukkan sebanyak satu mili warna larutan tetap bening. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, tetapi warna larutan tetap bening. Ketidak adaan perubahan pada uji tollens dengan sampel aseton menandakan bahwa uji tollens pada sampel aseton negatif dikarenakan tidak ada reaksi yang terjadi antara sampel dengan reagen tollens. Hal ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa aseton merupakan keton karena tidak terbentuknya cermin perak yang merupakan indikator bahwa adanya gugus aldehid (Khoza et al, 2012).

            Percobaan pada sampel glukosa saat AgNO3 ditambahkan dengan NH4OH, larutan menjadi bening. Saat sampel glukosa dimasukkan sebanyak satu mili warna larutan tetap bening. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, sehingga terbentuk warna abu-abu dan ada endapan cermin perak. Adanya endapan cermin perak ini menandakan bahwa uji tollens pada sampel glukosa positif dikarenakan terjadinya reaksi antara sampel dan reagen tollens. Hal ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa glukosa merupakan aldehid karena dapat bereaksi dengan reagen tollens dan akan membentuk cermin perak ketika direaksikan (Handayani dkk., 2018).

            Percobaan pada sampel fruktosa saat AgNO3 ditambahkan NH4OH, larutan menjadi bening. Saat sampel fruktosa dimasukkan sebanyak satu mili warna larutan berubah menjadi keruh. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, tetapi warna larutan tetap keruh. Ketidak adaan perubahan pada uji tollens dengan sampel fruktosa menandakan bahwa uji tollens pada sampel fruktosa negatif dikarenakan tidak ada reaksi yang terjadi antara sampel dengan reagen tollens. Menurut Irfianti dan Sunarharum (2019), hal ini tidak sesuai dengan yang ada di literatur, didalam literatur fruktosa dapat membentuk cermin perak pada uji tollen. Hal ini bisa terjadi karena banyak faktor kesalahan yang terjadi seperti glassware yang terkontaminasi oleh larutan lain atau praktikan yang tidak melakukan duplo pada saat pengujian. Fruktosa bisa positif dikarenakan fruktosa memiliki gugus karbonil bebas sehingga fruktosa dapat teroksidasi dengan reagen tollens. Dalam suasana basa, fruktosa membentuk sebuan enediol. Enediol inilah yang mereduksi Ag+ dan Cu+. Gula yang memiliki gugus karbonil bebas disebut gula pereduksi. Hal ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa monosakarida atau fruktosa dapat meredyksi Cu dalam suasana basa, reaksi ini dapat berlangsung apabila gugus -OH pada C anomer bebas (Simanjuntak,2014).

            Percobaan pada sampel sukrosa saat AgNO3 ditambahkan NH4OH, larutan menjadi bening. Saat sampel sukrosa dimasukkan sebanyak satu mili warna larutan teteap bening. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, tetapi warna larutan tetap bening. Ketidak adaan perubahan pada uji tollens dengan sampel sukrosa menandakan bahwa uji tollens pada sampel sukrosa negatif dikarenakan tidak ada reaksi yang terjadi antara sampel dengan reagen tollens. Hal ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa sukrosa merupakan keton dikarenakan tidak terbentuknya cermin perak yang merupakan indikator bahwa adanya gugus aldehid (Mulyakin, 2020).

 

d. Mekanisme Reaksi (beserta struktur)

            Mekanisme dari terbentuknya cermin perak yaitu gugus aldehid akan dioksidasi menjadi anion karboksilat. Reaksi reagen tollens mampu mengubah ikatan CHO pada aldehid menjadi ikatan COOH pada asam karboksilat. Ion Ag+ akan direduksi oleh aldehid menjadi Ag (endapan perak). Bila senyawa aldehid ditambahkan dengan pereaksi tollens dan dipanaskan maka aldehid akan teroksidasi menjadi asam karboksilat yang membentuk garam amonia (Febrianti dan Sari, 2016).

 

5.2  Uji Fehling

a.  Prinsip

            Prinsip dari uji fehling yaitu membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan penambahan reagen fehling A dan B. Hasil positif dari uji fehling yaitu terbentuknya endapan berwarna merah bata. Uji fehling digunakan untuk menunjukkan sifat khusus karbohidrat dengan adanya karbohidrat pereduksi. Hasil uji menunjukkan bahwa glukosa dan sukrosa merupakan gula yang dapat mereduksi larutan fehling dan sebagai karbohidrat pereduksi (Fitri dan Fitriana, 2020).

 

b.  Analisa Prosedur

            Sebelum praktikum dilakukan, persiapan alat dan bahan terlebih dahulu. Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukkan reagen fehling A sebanyak lima tetes. Kemudian tambahkan lima tetes NaOH. Selanjutnya ditambahkan 10 tetes fehling B. Lakukan hal yang sama kepada tabung reaksi yang lain. Setelah itu, beri satu mili sampel pada masing-masing tabung reaksi. Setelah memasukan sampel, panaskan kelima tabung reaksi selama lima menit di air mendidih. Setelah dipanaskan selama dua menit, pindahkan dan angkat tabung reaksi. Setelah itu amati hasil yang diperoleh.

 

c.  Analisa Hasil

            Berdasarkan hasil percobaan pada uji fehling terdapat lima sampel yang digunakan, yaitu formaldehid, aseton, glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Percobaan pada sampel formaldehid saat reagen fehling A dan fehling B ditambahkan NaOH larutan menjadi warna biru muda. Selanjutnya, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak satu mili sehingga merubah warna larutan menjadi warna biru kehitaman. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, sehingga terbentuk endapan berwarna merah bata pada larutan. Adanya endapan merah bata pada uji fehling menandakan bahwa pada sampel formaldehid positif dikarenakan terjadinya reaksi antara sampel dengan reagen fehling. Hal ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa formaldehid termasuk aldehid, sehingga dapat bereaksi dengan reagen fehling dan akan membentuk endapan merah bata ketika bereaksi dengan reagen fehling (Tangdiongga dkk., 2015).

            Percobaan pada aseton saat reagen fehling A dan fehling B ditambahkan NaOH larutan menjadi warna biru muda. Selanjutnya, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak satu mili sehingga merubah warna biru muda menjadi biru jernih. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, tetapi warna larutan  tetap menjadi biru jernih. Ketidak adaan reaksi apa pun yang terjadi menandakan bahwa uji fehling pada sampel aseton negatif, dikarenakan tidak terjadinya reaksi antara sampel aseton dengan reagen fehling. Hal ini juga sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa aseton merupakan keton yang dibuktikan dengan tidak terbentuknya endapan berwarna merah bata pada larutan (Bradberry, 2016).

            Percobaan pada glukosa reagen fehling A dan fehling B ditambahkan NaOH larutan menjadi warna biru muda. Selanjutnya, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak satu mili sehingga merubah warna biru muda menjadi hijau kebiruan. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, tetapi warna larutan  tetap menjadi hijau kebiruan. Ketidak adaan reaksi apa pun yang terjadi menandakan bahwa uji fehling pada sampel glukosa negatif, dikarenakan tidak terjadinya reaksi antara sampel glukosa dengan reagen fehling. Hal ini tidak sesuai dengan yang ada di dalam literatur. Di dalam literatur menjelaskan bahwa glukosa merupakan aldehid, sehingga dapat membentuk endapan berwarna merah bata. Hal ini bisa terjadi karena banyak faktor kesalahan yang terjadi seperti glassware yang terkontaminasi oleh larutan lain atau praktikan yang tidak melakukan duplo pada saat pengujian (Shendurse and Khedkar, 2016).

            Percobaan pada fruktosa reagen fehling A dan fehling B ditambahkan NaOH larutan menjadi warna biru muda. Selanjutnya, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak satu mili sehingga merubah warna biru muda menjadi kuning kebiruan. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, sehingga terbentuk endapan berwarna merah bata pada larutan. Adanya endapan merah bata pada uji fehling menandakan bahwa pada sampel fruktosa positif dikarenakan terjadinya reaksi antara sampel dengan reagen fehling. Hal ini sesudai dengan yang ada di dalam literatur bahwa fruktosa merupakan aldehid sehingga pada uji fehling dapat membentuk endapan berwarna merah bata (Jensen et al, 2018).

            Percobaan pada sukrosa reagen fehling A dan fehling B ditambahkan NaOH larutan menjadi warna biru muda. Selanjutnya, sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak satu mili sehingga merubah warna biru muda menjadi birtu tua. Kemudian dilakukan pemanasan pada tabung reaksi selama kurang lebih dua menit, tetapi warna larutan  tetap menjadi biru tua. Ketidak adaan reaksi apa pun yang terjadi menandakan bahwa uji fehling pada sampel sukrosa negatif, dikarenakan tidak terjadinya reaksi antara sampel sukrosa dengan reagen fehling. Sukrosa tidak bisa membentuk enediol dikarenakan sukrosa tidak memiliki gugus karbonil bebas (C=O). Sukrosa adalah gabungan antara fruktosa dengan glukosa. Ikatan glikosidik yang melibatkan gugus pereduksi kedua gula (fruktosa dan glukosa). Oleh karena itu, sukrosa tidak memiliki gugus pereduksi. Hal ini sesuai dengan yang ada di dalam literatur bahwa sukrosa merupakan keton, yang terbukti dari tidak terbentuknya endapan bata merah pada larutan (Kartikorini, 2016).

 

d. Mekanisme Reaksi (beserta struktur)

            Mekanisme terbentuknya endapan merah bata yaitu dimulai ddari gugus aldehit yang dioksidasi menjadi anion karboksilat. Kemudian, reaksi reagen fehling yang mampu mengubah ikatan CHO pada aldehid menjadi ikatan COOH pada asam karboksilat. Ion Cu+ akan direduksi oleh aldehid menjadi Cu2O (endapan merah bata). pereaksi fehling A dan B ketika dipanaskan menghasilkan warna merah bata pada senyawa benzaldehid, karena mengandung gugus aldehid dan mudah untuk teroksidasi (Martin, 2012).

6. PERTANYAAN

1. Apa fungsi penambahan larutan AgNO3 5% dalam percobaan uji Tollens?

Penambahan larutan AgNO3 5% sebagai oksidator lemah yang digunakan sebagai reagen pada uji tollens yang akan mengoksidasi aldehid dan membentuk cermin perak. Hal ini dikarenakan dari ion Ag+ yang tereduksi menjadi Ag. Hal ini sebagai tanda bahwa sampel mempunyai gugus aldehid. Hasil uji positif dari uji tollens yaitu dengan terbentuknya cermin perak pada dinding tabung (Purwanto, dkk., 2016).

 

 

2. Apa fungsi penambahan larutan NH4OH 6M dalam percobaan uji Tollens?

Penambahan NH4OH 6M dalam uji tollens untuk mencegah endapan ion perak sebagai oksida pada suhu tinggi. Fungsinya untuk mencegah terbentuknya endapan awal dan melepas Ag. Selain itu, untuk membuat suasana basa agar sampel tidak mudah cepat teroksidasi (Ammar, 2014).

 

 

3. Apa fungsi larutan NaOH dan natrium kalium tartrat dalam percobaan uji Fehling?

Ditambahkannya larutan NaOH dan natrium tartrat dalam percobaan uji fehling memiliki fungsi. Fungsi ditambahkannya larutan NaOH dan natrium tatrat yaitu untuk pembuatan reagen fehling B. Fehling B yang digunakan ini akan mengubah ikatan CHO pada aldehid menjadi ikatan COOH pada asam karboksilat (Harianja dkk, 2015).

 

 

KESIMPULAN

                        Tujuan dari diadakannya praktikum ini adalah agar praktikan dapat membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan uji tollens dan uji fehlin. Selain itu, tujuan praktikum ini adalah agar praktikan memahami reaksi yang terjadi selam uji tollens dan fehling. Prinsip dari uji tollens yaitu membedakan aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan menambahkan reagen tollens yaitu AgNO3 di mana hasil positifnya adalah terbentuk cermin perak. Kemudian, prinsip dari uji fehling yaitu membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan penambahan reagen fehling A dan B. Hasil positif dari uji fehling yaitu terbentuknya endapan berwarna merah bata. Pada data hasil percobaan uji tollens terdapat lima sampel yaitu formaldehid, aseton, glukosa, fruktosa, dan sukrosa.  Pada larutan reagen tollens yang ditambahkan NH4OH menjadi berwarna bening dan endapan menghilang. Kemudian untuk hasil positif atau yang menghasilkan cermin perak, yaitu pada sampel formaldehid dan glukosa dan hasil negatif atau yang tidak menghasilkan cermin perak, yaitu pada sampel aseton, fruktosa, dan sukrosa. Akan tetapi menurut literatur yang seharusnya menghasilkan cermin  perak adalah formaldehid, glukosa, dan fruktosa. Selanjutnya pada uji fehling. Pada data hasil percobaan uji fehling terdapat lima sampel yaitu formaldehid, aseton, glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Pada larutan reagen fehling ditambahkan NaOH menjadi berwarna biru muda. Kemudian, untuk hasil positif atau yang menghasilkan endapan berwarna merah bata, yaitu  pada sampel formaldehid dan fruktosa dan hasil negatif atau yang tidak menghasilkan endapan  berwarna merah bata, yaitu pada sampel aseton, glukosa, dan sukrosa. Akan tetapi menurut literatur yang seharusnya menghasilkan cermin  perak adalah formaldehid, glukosa, dan fruktosa. Selanjutnya pada uji fehling. Kegagalan pada percobaan atau ketidaksesuaian dengan literatur terjadi karena banyak faktor kesalahan yang terjadi seperti glassware yang terkontaminasi oleh larutan lain atau praktikan yang tidak melakukan duplo pada saat pengujian.


DAFTAR PUSTAKA

 

Addiin, Istiqomah dan S. Yamtinah. 2016. Pembuatan Perak Nitrat (AgNO3) Teknik dari Limbah Penyepuhan Perak. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS). Surakarta: 22 Oktober 2016. Hal. 429-438.

Ali. P., Samadi, M.T., Azarian, G., Seifipour, F., Huang, C.P., dan X. Yang. 2015. The Formation of Aldehydes and Ketone Ozonation by Products and Their Variation Through General Water Treatment Plant in Hamadan. Global NEST Journal. 17(4): 682-691.

Anggraeni, P., Addarojah, Z., dan D.D. Anggoro. 2015. Hidrolisis Selulosa Eceng Gondok (Eichhornia crassipe) Menjadi Glukosa dengan Katalis Arang Aktif Tersulfonasi. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. 2(3): 63-69.

Cahyaninggalih, A.K., Setiawan, A., dan N.E. Mayangsari. Recovery Amonium Hidroksida (NH4OH) dari Limbah Regenerasi Mengandung (NH4)2SO4 dengan Menggunakan Distilasi Vakum. Conference Proceeding ob Waste Treatment Technology. Surabaya: 2018. Hal.177-182.

Damayanti, L.T. dan J. Ikhsan. 2016. Augmented Chemistry Aldehida & Keton (Buku Pengayaan Berbasis Augmented Reality dengan Sistem Operasi Android). Yogyakarta: LPPM Universitas Negeri Yogyakarta.

Dzarnisa dan H. Latif. 2014. Analisis Komponen Aktif Cita Rasa pada Susu Fermentasi dengan Kromotografi Gas. Jurnal Agripet. 14(1): 25-30.

Fitri, A.S. dan Y.A.N. Fitriana. 2020. Analisis Senyawa Kimia pada Karbohidrat. Sainteks. 17(1): 45-52.

Harianja, Jhon W., Idiawati, N., dan Rudiyansyah. 2015. Optimasi Jenis dan Konsentrasi Asam pada Hidrolisis Selulosa dalam Tongkol Jagung. JKK. 4(4): 66-71.

Irfianti, A., dan Wenny, B. S. 2019. Eksplorasi Karakteristik Kimia dan Fisik Serta Komponen Gula pada Mangga Garifta (Mangifera indica). Jurnal Pangan Dan Agroindustri. 7(2): 47-52.

Khaldun, Ibnu. 2014. Aplikasi Microsoft Excel Pada Program Titrasi Volumetri. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.

Kurniawati, Tri Y. 2015. Superbook : Ringkasan Materi dan Soal Jawab Matematika dan IPA (Fisika, Kimia Biologi). Jakarta: Grasindo Media Pratama.

Lubis, Amalia P. dan R. Zainul. 2018. Interaksi Molekuler Amonium Hidroksida. Jurnal Ilmu Pengetahuan Alam. 1(1): 1-32.

Martin, E.A. 2012. Kamus Sains. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Master, T. 2020. Handbook Master Saintek Sukses Persiapan UTBK 2021. Lumajang: Lumajang.

Mulyakin, S. 2020. Kajian Penambahan Gula Pasir Terhadap Sifat Kimia Dan Organoleptik Sirup Kersen. SKRIPSI. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Mataram.

Purwanto, R., Retnowati, E., Nurhayati, Rosaline, L., Rahmadi, E.N., Maulana, A., dan M. Zainuddin. 2019. Top One Bedah Kisi-Kisi Terlengkap UTBK SBMPTN Saintek 2020. Jakarta Selatan: Bintang Wahyu.

Rahayu, Nurhayati. 2012. Rangkuman Kimia SMP. Jakarta: Gagas Media.

 

Rini, C.S. Budi. 2017. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Mikroalga Tetraselmis chuii Metode Ultrasound Assited Extraction. SKRIPSI. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya.

Rusmiati, Iis. 2015. Top Procket Master Book Kimia. Jakarta Selatan: PT Bintang Wahyu.

Sufia, F., Fikri, Z., dan Iswari. 2018. Pengaruh Kadar Glukosa Urine Metode Benedict, Fehling dan Stick Setelah Ditambahkan Vitamin C Dosis Tinggi/ 1000 mg. Jurnal Analis Medika Bio Sains. 5(2): 1-5.

Tangdiogga, R. R., Lucia, C. M., dan Frans, L. 2015. Kajian Analisis Kimia Formaldehida dalam Peralatan Makan Melamin Secara Spektrofotometri Sinar Tampak. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Pangan. 3(1): 1-6.


 

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Ammar, Ganjar. 2014. Sifat dan Reaksi Kimia. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Bradberry, Sally. 2016. Acetone. Medicine. 44(3): 127.

Febrianti, D. R. dan R. M. Sari. 2016. Analisis Kualitatif Formalin pada Ikan Tongkol yang Dijual di Pasar Lama Banjarmasin. Jurnal Pharmascience. 3(2): 64-68.

Handayani, Sri S., Tarnanda, R., Rahayu, A., dan Amrullah. 2018. Proses Degradasi Lignin Pada Batang Tembakau Sebagai Persiapan Produksi Bioetanol. Jurnal Pijar MIPA. 13(2): 140-146.

Harianja, J. W., Idiawati, N., dan Rudiyansyah. 2015. Optimasi Jenis Konsentrasi Asam pada Hidrolisis Selulosa dalam Tongkol Jagung. JKK. 4(4): 66-71.

Irfianti, A. dan W. B. Sunarharum. 2019. Eksplorasi Karakteristik Kimia dan Fisik Serta Komponen Gula pada Mangga Garifta (Mangifera indica). Jurnal Pangan dan Agroindustri. 7(2): 47-52.

Jensen, T., Abdelmalek, M. F., Sullivan, S., Nadeau, K. J., Green, M., Roncal, C., Nakagawa, T., Kuwabara, M., Sato, Y., Kang, D., Tolan, D. R., Sanchez-Lozada, L. G., Rosen, H. R., Lanaspa, M. A., Diehl, A. M., and R. J. Johnson. 2018. Fructose and Sugar : A Major Mediator of Nonalcoholic Fatty Liver Disease. Journal Hepatol. 68(5): 1063-1075.

Juliadi, D., Yuliasih, N. W., Paramitha, D. A. I., dan N. P. D. Agustini. 2018. Uji Pengaruh Variasi Konsentrasi Perendaman Larutan Asam Jawa Terhadap Penurunan Kadar Formalin Pada Sosis. Medicamento. 4(2): 71-77.

Kartikorini, N. 2016. Analisa Kadar Gula (Sukrosa) Buah Mangga Berdasarkan Varietasnya. SKRIPSI. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Khoza, P. B., Moloto, M. J., and L. M. Sikhwivhilu. 2012. The Effect of Solvents, Acetone, Water, Ethanol, on the Morphological and Optical Properties of ZnO Nanoparticles Prepared by Microwave. Journal of Nanotechnology. 12(6): 1-7.

Musri. 2018. Kimia Organik Bahan Alam. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.

Purwanto, R., Nurhayati, Rahmadi, E. N., Ukhrowati, U., Suherman, A., dan I. Daniati. 2016. TOP No.1 SKL UN SMA/MA IPA 2017. Jakarta: Bintang Wahyu.

Simanjuntak, Tiurma P. T. 2014. Komponen Gizi dan Terapi Pangan Ala Papua Edisi 1. Yogyakarta: Deepublish Publisher.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 1) IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALKOHOL

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 4) ANALISIS KUALITATIF PROTEIN