LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 1) IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALKOHOL

BAB 1

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALKOHOL

 

1. PRE-LAB

1. Jelaskan prinsip dari uji Lucas dan uji Ferri klorida !

Prinsip dari uji lucas adalah untuk membedakan alkohol primer, alkohol sekunder, dan alkohol tersier. Pereaksi lucas terdiri atas ZnCl2 dalam HCl pekat. Uji ini berdasarkan reaksi antara alkohol dan HCl dengan katalis ZnCl. Pada pengujian, alkohol primer tidak menunjukkan terjadinya reaksi. Alkohol sekunder bereaksi dalam waktu lima menit. Alkohol tersier bereaksi cepat, ditunjukkan dengan terbentuknya kabut pada permukaan larutan (Komarudin. 2015).

Prinsip dari uji ferri klorida adalah dengan senyawa aromatik.Cara klasik untuk mendeteksi senyawa fenol sederhana yaitu dengan menambahkan ekstrak dengan FeCl3 1% di dalam air. Reaksinya akan menimbulkan warna hijau, merha, ungu, biru, atau hitam yang pekat. Perubahan warna pada sampel setelah ditambahkan dengan FeCl3 menunjukkan adanya senyawa fenolik yang teroksidasi. Senyawa fenolik dalam sampel diperkirakan merupakan senyawa tanin yang ditunjukkan oleh perubahan warna filtrat dari coklat kehijauan menjadi biru tinta. Terbentuknya warna hijau kehitaman atau biru tinta pada ekstrak karena tanin akan membentuk senyawa kompleks dengan ion Fe3+ (Mabruroh, 2015).

2.  Sebutkan dan jelaskan macam jenis alkohol berdasarkan gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon ! (berikan masing-masing 3 contoh)

Berdasarkan gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon, ada tiga jenis alkohol. Yang pertama ada alkohol primer. Alkohol primer merupakan gugus dungsi -OH yang terikat pada atom C primer (-CH2OH).Contoh dari alkohol primer yaitu etanol, butanol, dan propanol (Agustin dan Syafitri, 2018).

Jenis yang kedua yaitu alkohol sekunder. Alkohol sekunder merupakan gugus fungsi -OH yang terikat pada atom C sekunder (-CHOH). Contoh dari alkohol sekunder yaitu 2-butanol, 2-propanol, dan 3-metil-2-butanol (Agustin dan Syafitri, 2018).

Kemudian jenis yang ketiga ada alkohol tersier. Alkohol tersier yaitu gugus fungsi -OH yang terikat pada atom C tersier (-COH). Contoh alkohol tersier yaitu 1,1-dimetil-1-propanol, 2-metil-2-propanol, dan 3-etil-3-pentanol (Agustin dan Syafitri, 2018).

3. Jelaskan faktor yang mempengaruhi kelarutan alkohol dan fenol pada pelarut polar dan non-polar !

Faktor yang mempengaruhi kelarutan alkohol dan fenol pada pelarut polar dan non-polar ada tiga. Pertama ada jenis pelarut, tidak semua senyawa dapat terlarut dalam air karena senyawa nonpolar tidak dapat larut dalam pelarut polar, begitu pun sebaliknya. Senyawa polar larut di dalam pelarut polar. Senyawa nontoplar larut dalam pelarut non polar (Melati, 2019).

Faktor yang kedua yaitu ada suhu. Kelarutan suatu zat berwujud padat makin tinggi apabila suhunya dinaikkan. Apabila suhu naik, maka jarak antarmolekul zat padat menjadi renggang sehingga ikatannya menjadi mudah lepas akibat gaya tarik-menarik molekul air (zat padat tersebut menjadi mudah larut) (Melati, 2019).

Kemudian fakto yang ketiga ada pengadukan. Pengadukan dapat menyebabkan tumbukan antarpartikel zat dengan pelarutnya makin cepat. Hal tersebut menyebabkan zat tersebut mudah larut dalam pelarutnya (Melati, 2019).

4. Jelaskan perbedaan yang dapat ditemukan diantara senyawa alkohol alifatik dan alkohol aromatik ! (minimal 4)

Ada empat perbedaan yang dapat ditemukan diantara senyawa alkohol alifatik dan alokohol aromatik. Perbedaannya antara lain :

·         Alkohol aromatik bersifat asam sedangkan alkohol alifatik bersifat netral.

·         Alkohol aromatik dapat bereaksi dengan alkil halida membentuk ester, sedangkan alkohol alifatik bereaksi dengan asam karboksilat membentuk ester.

·         Alkohol aromatik bereaksi dengan basa membentuk garam, sedangkan alkohol alifatik berekasi dengan natrium

·         Alkohol aromatik tidak bereaksi dengan natrium, sedangkan alkohol alifatik tidak bereaksi dengan basa.

(Rizki, 2020)

5. Sebutkan peranan alkohol alifatik dan fenol yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari ! (masing-masing minimal 3)

Peranan alkohol alifatik yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu etanol untuk minuman keras. Selain itu 2 propanol digunakan sebagai zat pembunuh kuman. Kemudian metanol sebagai komponen utama dalam spritus yang digunakan untuk bahan bakar (Suhatri, dkk., 2016).

Peranan fenol yang dapat ditemukan dalam kehiduoan sehari-hari yaitu dapat dijadikan sebagai bahan perekat. Selain itu fenol juga bisa dijadikan sebagai bahan baku kosmetik. Kemudian fenol juga dapat menjadi bahan baku obat-obatan (Vika, 2012).

 

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Fenol

Fenol mempunyai rumus molekul C6H5OH dan molekulnya memiliki berat sekitat 94,11 gr/mol. Fenol merupakan zat kristal yang tidak memiliki warna dan memiliki bau yang khas. Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik, pembuatan asam pikrat, asam salisilat dan senyawa kimia yang lain. Fenol dapat larut di dalam etanol (1%) P, larut juga dalam kloroform P, kemudian larut juga dalam eter P, lalu larut juga di dalam gliserol P, dan juga dalam minyak lemah (Stoker, 2012).


2.2 Metanol

Metanol merupakan sebuah cairan jernih, tidak berwarna dan merupakan cairan yang mudah terbakar. Metanol bisa dibuat dengan mereaksikan hidrogen dengan karbon monoksida atau karbondioksida. Metanol sering dipakai di dalam bidang industri sebagai starting material pembuatan bahan kimia, sebagai cairan pembersih kaca mobil, pembersih karburator, antibeku, toner mesin fotokopi, dan bahan bakar. Sifat fisika dan kimia metanol memiliki rumus molekul CH3OH, massa molar sebesar 32,04 g/mol dan memiliki densitas 0,7918 g/cm3. Api dari metanol biasanya tidak memiliki warna, sehingga harus berhati-hati bila berada didekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera akibat api yang tidak terlihat (Whitesell, 2014).

 

2.3 Etanol

Etanol merupakan salah satu senyawa penting dalam bidang energi dan kesehatan. Etanol dapat dibuat menggunakan metode fermentasi atau disebut peragian, merupakan proses perubahan kimia dalam suatu substrat organic yang dapat berlangsung karena aksi katalisator biokimia, yaitu enzim yang dihasilkan dari mikroba-mikroba hidup tertentu, terjadi karena aktifitas mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik sesuai. Etanol yang dihasilkan dari proses fermentasi dapat digunakan dalam berbagai keperluan, yaitu sebagai pelarut, disinfektan, sebagai bahan baku industry kimia, bahan bakar dan sebagai bahan minuman (Widyanti, 2016).

Senyawa etanol merupakan senyawa yang mudah terbakar. Etanol jika terjadi kontak langsung dengan mata dapat menyebabkan iritasi pada meta. Selain itu etanol juga dapat menyebabkan mata kemerahan, nyeri pada kornea, peradangan, dan kerusakan kornea (Iswara, dkk., 2014).


2.4 2-Propanol

Aseton atau yang dikenal juga dengan dimetil keton atau 2-propanol merupakan senyawa penting dari allipatic keton. Aseton adalah keton yang paling sederhana, digunakan sebagai pelarut polar dalam kebanyakan reaksi organik. Aseton merupakan senyawa berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar, digunakan untuk membuat plastik, serat, obat-obatan, dan senyawa kimia lainnya. Selain di dalam industri, aseton dapat juga ditemukan secara alami, termasuk juga ada pada tubuh manusia dalam kandungan kecil (Rini, 2017).

Aseton dengan sebutan lain 2-propanol atau dimetil keton, memiliki sifat-sifat, yaitu memiliki rumus molekul C3H6O. Kenampakannya pada senyawa ini tak berwarna. Senyawa ini memiliki titik didih 56,29oC. Senyawa ini juga bersifat sangat larut di dalam air (Rini, 2017).


2.5 FeCl3

Ferri klorida (FeCl3) merupakan garam logam yang biasanya digunakan sebagai koagulan. FeCl3 digunakan sebagai koagulan karena sifatnya yang akan mengion di dalam air menjadi kation Fe3+. Selain itu juga, FeCl3 mampu mengikat bahan-bahan organik dengan cepat dan membentuk flok-flok yang kuat sehingga dapat mempercepat proses pengendapan. FeCl3 digunakan sebagai koagulan karena intensitas warnanya tinggi dan air yang kesadahannya rendah. FeCl3 berfungsi efektif untuk pH yang lebih tinggi dari 4,5 (Umah, dkk., 2018).


2.6 HCl

Senyawa HCl adalah senyawa yang bersifat korosif. Senyawa HCl juga dapat merusak jaringan hidup. Selain itu, senyawa HCl dapat menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal dan dapat membuat kulit mengelupas (Merck, 2017).

Asam klorida merupakan larutan akuatik dari gas hidrogen dan gas klorida. Asam klorida memiliki sifat asam kuat dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Asam klorida harus ditangani dengan sangat hati-hati karena asam klorida merupakan cairan yang bersifat sangat korosif (Yusnita, 2019).

 

2.7 ZnCl2

ZnCl2 merupakan zat atau senyawa kimia yang dapat berfungsi sebagai reagen pengaktif yang bisa disebut sebagai aktifator. Senyawa ini kemudian akan mengaktifkan atom-atom karbon sehingga memiliki daya serap yang lebih baik. Seng klorida memiliki sifat higroskopis dan bahkan deliquescent, sehingga bahan ini harus terlindungi dari sumber-sumber dengan kelembaban yaitu dengan adanya uap dalam udara ruangan. Seng klorida adalah senyawa yang sangat mudah larut di dalam air dan pelarut organik seperti aseton dan alkohol. Sifat ini yang mengindikasikan bahwa senyawa ini merupakan senyawa dengan ikatan kovalen (Setiyoningsih, 2018).

 

2.8 Aquades

Aquades adalah air murni atau hasil destilasi atau penyulingan. Aquades memiliki sifat yang netral. Oleh sebab itu, aquades sering digunakan sebagai bahan untuk pengenceran larutan (Fitriani, 2015).

Aquades digunakan untuk membilas glassware. Aquades digunakan untuk membilas agar menghilangkan zat sisa yang masih menempel pada glassware. Setelah dibilas dengan aquades, glassware harus dibersihkan dengan tisu kering atau dikeringkan dengan cara dibalik (Chotimah, et all, 2019).


 

4. DATA HASIL PENGAMATAN

4.1 Uji Lucas

Sampel

Perubahan Warna

Keterangan

Metanol

Terjadi perubahan warna menjadi putih keruh/berkabut

+(Positif)

Etanol

 

Tidak terjadi perubahan warna

-(Negatif)

2-propanol

 

Terjadi perubahan warna menjadi putih keruh/berkabut

+(Positif)

Fenol

 

Tidak terjadi perubahan warna

-(Negatif)

 

4.2 Uji Ferri Klorida

Sampel

Perubahan Warna

Keterangan

Metanol

Tidak terjadi perubahan warna

-(Negatif)

Etanol

 

Terjadi perubahan warna dari kuning jernih menjadi warna ungu bening

+(Positif)

2-propanol

 

Tidak terjadi perubahan warna

-(Negatif)

Fenol

 

Terjadi perubahan warna menjadi warna ungu

+(Positif)

 

5. PEMBAHASAN

5.1 Uji Lucas

a.  Prinsip Uji Lucas

                   Prinsip dari uji lucas yaitu mengidentifikasi jenis alkohol dengan penambahan regen lucas dimana akan terjadi reaksi substitusi gugus -OH pada alkohol dengan Cl pada reagen sehingga terbentuk alkil klorida yang tak larut dalam larutan. Alkohol primer bersifat larut dalam reagen yang menghasilkan larutan bening. Alkohol sekunder menghasilkan warna keruh atau setelah sekitar 3-5 menit, dibutuhkan juga sedikit panas. Alkohol tersier, Benzylic dan Allyl alkohol menghasilkan kekeruhan langsung yang pada akhirnya Alkil halida yang tidak bercampur memisahkan menjadi lapisan terpisah (Aljamali, 2015).

 

b.  Analisa Prosedur

                   Pada uji lucas, prosedur yang pertama dilakukan adalah persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Kemudian masukkan sebanyak 0,5 ml sampel ke dalam masing-masing tabung reaksi dan tabung reaksi diberi label sesuai dengan nama sampel uji. Lalu, masukkan 2 ml reagen lucas ke dalam masing-masing tabung reaksi yang telah berisi sampel uji. Selanjutnya, tutup tabung reaksi dan kocok tabung reaksi tersebut. Kemudian, amati terbentuknya kabut selama 5 menit. Jika tidak terjadi perubahan dalam 5 menit, maka larutkan dipanaskan dengan menggunakan media air dengan suhu sebesar 60oC selama 10 menit. Jika sudah diapanaskan selama 10 menit, angkat tabung reaksi dan pindahkan ke rak tabung reaksi. Selanjutnya, amati hasil yang didapat.

 

c. Analisa Hasil

Sampel

Perubahan yang terjadi

Keterangan

Sebelum

Sesudah

Methanol

Jernih

Putih Keruh/Berkabut

+(Positif)

Ethanol

Jernih

Jernih

-(Negatif)

2-Propanol

Jernih

Putih Keruh/Berkabut

+(Positif)

Fenol

Jernih

Jenih

-(Negatif)

                   Berdasarkan hasil pengamatan pada percobaan uji lucas terdapat empat sampel yang digunakan, yaitu methanol, ethanol, 2-propanol, dan fenol. Pengamatan pada methanol perubahan warna yang terjadi yaitu dari jernih menjadi putih keruh atau berkabut, ini menandakan bahwa methanol dapat bereaksi dengan reagen lucas. Sedangkan di dalam literatur menurut McMurry (2011) methanol merupakan alkohol primer sehingga tidak bereaksi dengan uji lucas. Jadi jawaban untuk pertanyaan pada data hasil pengamatan adalah salah, dikarenakan jawaban yang benar seharusnya methanol menghasilkan uji negatif karena tidak dapat bereaksi dengan reagen lucas, sehingga tidak ada perubahan warna yang terjadi.

                   Pengamatan pada ethanol tidak ada perubahan warna yang terjadi, larutan tetap jernih, ini menandakan bahwa ethanol tidak dapat bereaksi dengan reagen lucas. Percobaan ini sesuai dengan literatur yaitu ethanol termasuk alkohol primer. Larutan tidak berubah warna maka menandakan adanya alkohol primer (Eddy, dkk., 2018).

                   Pengamatan pada 2-propanol perubahan warna yang terjadi yaitu dari jernih menjadi putih keruh atau berkabut. Hal ini menandakan bahwa 2-propanol dapat bereaksi dengan reagen lucas. Percobaan ini sesuai dengan literatur bahwa sampel yang termasuk alkohol sekunder ketika ditambahkan reagen lucas terjadi reaksi kimia, namun sangat lambat (McMurry, 2012).

                   Pengamatan pada fenol tidak ada perubahan warna yang terjadi, larutan tetap jernih. Hal ini menandakan bahwa fenol tidak dapat bereaksi dengan reagen lucas. Pada literatur fenol merupakan golongan benzena sehingga tidak dapat bereaksi dengan reagen lucas (Jannah, dkk., 2019).

 

d.  Mekanisme Reaksi

                   Reaksi uji lucas pada alkohol sekunder bereaksi dengan seng klorida akan menghasilkan kompleks alkohol-seng klorida yang akan lepas dan membentuk karbonkation yang stabil. Jika dibandingkan dengan karbonkatiok pada alkohol primer lalu akan bereaksi dengan ion Cl dan akan membentuk alkil halida yang bersifat nonpolar. Hal ini menjadikan alkohol sekunder tidak larut dengan air dan membentuk 2 fase, salah satunya terbentuk alkil klorida atau kabut (Eddy, dkk., 2018).

 

Gambar 5.1 Mekanisme reaksi uji lucas pada alkohol sekunder

(Eddy, dkk., 2018)

 

5.2 Uji Ferri Klorida

a.  Prinsip Uji Ferri Klorida

                   Prinsip dari uji ferri klorida yaitu mendeteksi keberadaan fenol pada suatu senyawa dengan penambahan larutan ferri klorida yang uji positifnya akan menghasilkan warna ungu, merah, hijau, atau biru sebagai akibat dari adanya reaksi gugus -OH pada fenol bereaksi dengan larutan ferri klorida yang ditambahkan. Warna yang diperoleh tergantung pada substituen yang terikat pada fenol. Menurut Rachmawati, dkk. (2011) deteksi dilakukan dengan penampak bercak ferri klorida untuk senyawa fenolik.

 

b.  Analisa Prosedur

                   Pada uji lucas, prosedur yang pertama dilakukan adalah persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Kemudian masukkan sebanyak 1 ml aquades ke dalam masing-masing tabung reaksi dan tabung reaksi diberi label sesuai dengan nama sampel uji. Selanjutnya, masukkan 5 tetes sampel ke dalam masing-masing tabung reaksi yang telah diberi label nama sampel uji. Lalu, masukkan 2 tetes ferri klorida ke dalam masing-masing tabung reaksi yang berisi sampel uji. Kemudian, masing-masing sampel dikocok lalu diamati perubahan warna yang terjadi. Lakukan pengulangan terhadap langkah-langkah yang sudah dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Selanjutnya, amati hasil yang didapat.

 

c.  Analisa Hasil

Sampel

Perubahan yang terjadi

Keterangan

Sebelum

Sesudah

Methanol

Kuning Jernih

Kuning Jernih

-(Negatif)

Ethanol

Kuning Jernih

Ungu Bening

+(Positif)

2-Propanol

Kuning Jernih

Kuning Jernih

-(Negatif)

Fenol

Kuning Jernih

Ungu

+(Positif)

                   Berdasarkan hasil pengamatan pada percobaan uji ferri klorida terdapat empat sampel yang digunakan, yaitu methanol, ethanol, 2-propanol, dan fenol. Pengamatan pada methanol tidak ada perubahan warna yang terjadi. Hasil uji yang dihasilkan adalah negatif. Methanol adalah jenis alkohol primer dan bukan merupakan golongan benzena. Menurut McMurry (2011) Golongan alkohol apapun tidak bisa bereaksi dengan reagen ferri klorida.

                   Pengamatan pada ethanol perubahan warna yang terjadi yaitu dari kuning jernih menjadi ungu bening. Hasil uji yang dihasilkan adalah positif. Hal ini menandakan bahwa ethanol terdapat fenol sehingga terjadi perubahan menjadi warna ungu. Sedangkan di dalam literatur ethanol adalah jenis alkohol primer dan bukan merupakan golongan benzena. Menurut McMurry (2011) Golongan alkohol apapun tidak bisa bereaksi dengan reagen ferri klorida. Jadi jawaban untuk pertanyaan pada data hasil pengamatan adalah salah, dikarenakan jawaban yang benar seharusnya ethanol tidak terjadi perubahan warna dan menghasilkan uji negatif karena tidak dapat bereaksi dengan reagen ferri klorida.

                   Pengamatan pada 2-propanol tidak ada perubahan warna yang terjadi. Hasil uji yang dihasilkan adalah negatif. 2-Propanol adalah jenis alkohol sekunder dan bukan merupakan golongan benzena. Menurut McMurry (2011) Golongan alkohol apapun tidak bisa bereaksi dengan reagen ferri klorida.

                   Pengamatan pada fenol perubahan warna yang terjadi yaitu dari kuning jernih menjadi ungu. Hasil uji yang dihasilkan adalah positif. Menurut Wardiah (2016) fenol termasuk dalam golongan benzena sehingga memiliki cincin benzena. Pengamatan ini menyatakan bahwa pada sampel fenol terdapat fenol yang diuji dengan uji ferri klorida.

 

d.  Mekanisme Reaksi

                   Mekanisme yang terjadi pada percobaan uji ferri klorida adalah terbentuknya warna ungu pada saat fenol bereaksi dengan FeCl3 membentuk HCl. Fenol yang kehilangan H+ akan diganti dengan Fe3+ sehingga membentuk FeO pada cincin benzena. Pembentukan kompleks FeO pada cincin benzena yang dapat mengubah warna menjadi biru keunguan (McMurry, 2012).

Reaksi yang terjadi pada masing-masing sampel pada percobaan uji lucas:

6. KESIMPULAN

Prinsip dari uji lucas yaitu mengidentifikasi jenis alkohol dengan penambahan regen lucas dimana akan terjadi reaksi substitusi gugus -OH pada alkohol dengan Cl pada reagen sehingga terbentuk alkil klorida yang tak larut dalam larutan. Sedangkan prinsip dari uji ferri klorida adalah mendeteksi keberadaan fenol pada suatu senyawa dengan penambahan larutan ferri klorida yang uji positifnya akan menghasilkan warna ungu, merah, hijau, atau biru sebagai akibat dari adanya reaksi gugus -OH pada fenol bereaksi dengan larutan ferri klorida yang ditambahkan. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui sifat fisik alkohol dan fenol dan membedakan senyawa alkohol primer, sekunder, tersier, dan fenol dengan menggunakan tes lucas dan ferri klorida.

Pada uji lucas sampel yang dapat membentuk kabut dan sesuai dengan literatur adalah sampel 2-propanol dikarenakan 2-propanol adalah alkohol sekunder. Sedangkan pada methanol, etanol, dan fenol tidak dapat bereaksi dengan reagen lucas. Kemudian pada uji ferri klorida sampel yang berubah warna menjadi warna ungu dan sesuai dengan literatur adalah sampel fenol dikarenakan fenol merupakan golongan benzena yang dapat bereaksi dengan reagen ferri klorida. Sedangkan pada methanol, ethanol, dan 2-propanol tidak dapat bereaksi dengan reagen lucas, dikarenakan sampel tersebut merupakan alkohol dan alkohol jenis apa pun tidak dapat bereaksi dengan reagen ferri klorida.

DAFTAR PUSTAKA

 

Agustin, W.Y. dan I.K. Syahfitri. 2018. Smart Book Kimia SMA Kelas X, XI, XII. Jakarta: PT Grasindo.

 

Chotimah, Kartini, I., Kusumaatmaja, A., Motuzas, J., Siswanta, S., Triyana, K., Wahyuningsih, T.D. 2019. Symposium of Materials Science and Chemistry 4th International Conference on Science and Technology. Switzerland: Trans Tech Publications Ltd.

 

Fitriani, R. 2015. Kisi-Kisi Pasti Ujian Nasional SMP 2015 Prediksi Akurat. Jakarta: Lembar Pustaka Indonesia.

 

Iswara, Filasavita P., Rubiyanto, Dwiarso, Julianto, Tatang S. Julianto. 2014. Analisis Senyawa Berbahaya Dalam Parfum Dengan Kromatografi Gas-Spektrometri Massa Berdasarkan Material Safety Data Sheet (MSDS). Yogyakarta.

 

Komarudin, Omang. 2015. New Pocket Book Kimia SMA Kelas X, XI, & XII. Jakarta: Cmedia.

 

Mabruroh, Asasu I. 2015. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Tanin dari Daun Rumput Bambu (Lophatherum gracile brongn) dan Identifikasinya. SKRIPSI. Fakultas Sains Dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

 

Melati, Ratna R. 2019. Asam, Basa, dan Garam. Malang: Duta.

 

Merck. 2017. Lembaran Data Keselamatan Bahan. Jakarta.

 

Rini, C.S. Budi. 2017. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Mikroalga Tetraselmis chuii Metode Ultrasound Assited Extraction. SKRIPSI. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Brawijaya.

 

Rizki, Erzi K. 2020. Ringkasan Materi dan Latihan Soal Kimia Kelas XII SMA/MA. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer.

 

Setiyoningsih, L.A. 2018. Pembuatan dan Karakterisasi Arang Aktif Kulit Singkong Menggunakan Aktivator ZnCl2. SKRIPSI. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Jember.

 

Stoker, H. Stephen. 2012. General Organic and Biological Chemistry. Washington DC : Cengage Learning.

 

Suharti, M., Hartini, A.S., Ratnasari, P., dkk. 2016. Reaksi dan Karakterisasi Alkohol Alifatik. Kimia Organik 1. 2(1): 1-10.

 

Umah, N.R., Joko, T., dan H.L. Dangiran. 2018 Efektivitas Dosis Ferri Klorida (FeCl3) Dalam Menurunkan Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) pada Limbah Pabrik Tahu di Tempelsari Kalikajar Wonosobo. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 6(6): 279-289.

 

Vika, M.R. 2012. Pabrik Phenol Dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Proses Pirolisis. SKRIPSI. Fakultas Teknologi Industri. Institut Teknologi Sepuluh November.

 

Whitesell, James K. 2014. Organic Chemistry Made Simple. Oxford : Elsiever.

 

Widyanti, Emmanuela M. dan Bintang Iwhan M. 2016. Proses Pembuatan Etanol dari Gula Menggunakan Saccharomyces Cerevisiae Amobil. Metana. 12(2): 31-38.

 

Yusnita, M. 2019. Asam, Basa, dan Garam di Lingkungan Kita. Semarang: ALPRIN.


DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Aljamali, N.M. 2015. Identification Methods Of Unknown. International Journal of Medical Research and Pharmaceutical Sciences. 2(2): 1-7.

 

Eddy, D.R., Saraswati, S., dan Rustaman. 2018. Uji Fotokatalisis Reduksi Benzaldehida Menggunakan Titanium Dioksida Hasil Sintesis. PENDIPA Journal of Science Education. 2(2): 158-162.

 

Jannah, R., Jayanti, S., Wahyudi, I., dan D. Lestantyo. 2019. Analisis Resiko Paparan Benzena Terhadap Kadar Fenol Dalam Urine pada Pekerja Home Industry Reparasi “Bulu Shoes” Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 7(4): 404-410.

 

McMurry, John. 2011. Organic Chemistry, Seven Edition. Cengage Learning: Boston.

 

McMurry, John. 2012. Organic Chemistry, Eight Edition. Cengage Learning: Boston.

 

Rachmawati, F., Nauria, M.C., dan Sumantri. 2011. Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Kloroform Ekstrak Etanol Pegagan (Centella asiatica (L) Urb) Serta Identifikasi Senyawa Aktifnya. Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik. 1(2): 7-13.

 

Wardiah. 2016. Kimia Organik. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan: Jakarta Selatan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 2) IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI ALDEHID DAN KETON

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (BAB 4) ANALISIS KUALITATIF PROTEIN